0

BIREUEN, INDONEWS – Dalam rangka menyongsong sekolah rujukan, Kepala SMK Negeri 1 Peusangan Bireuen, Joko Triyanto memastikan bullying tidak terjadi di lingkungan sekolah mereka.

Sosialisasi dan penerapan sekolah bebas perundungan (bullying) telah dilaksanakan Kamis (15/9/2022) di aula sekolah setempat, yang diikuti 30 peserta dari guru dan 30 siswa dan siswi.

Kegiatan dibuka Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen yang diwakili Ahmad Fazil, S.Pd., M.Pd.

Joko Triyanto mendampingi Dr. Kosasi Ali Abu Bakar, S.Kom.,M.Si menjelaskan, tujuan pelaksanaan pembelajaran sekolah terbebas dari perundungan adalah untuk menghindari bahaya dampak negatifnya pada peserta didik.

“Misalkan korban sering menyendiri, tidak semangat beraktivitas, hilangnya kepercayaan diri, malas sekolah hingga membuat turunnya prestasi akademik,” katanya.

Selepas sosialisasi ini, Joko mengharapkan sekolah yang dipimpinnya mampu menjadi SMK rujukan dan menciptakan lingkungan sekolah berbasis industri utamanya, sekalugus dapat mewujudkan sekolah dengan pembelajaran paradigma baru

“Saat ini SMA Negeri 1 Peusangan sudah mendatangkan Dr. Kosasi Ali Abu Bakar yang merupakan unsur pusat penguatan karakter Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) RI sebagai pemateri.

BACA JUGA :  Mengkhawatirkan! Murid SDN Kotabatu 08 Belajar Dibawah Plapon Nyaris Ambruk

Dalam memberikan pemahaman, pengetahuan dan keterampilan kepada siswa-siswi sebagai ‘agen perubahan’ berkaitan penanganan tindak perundungan dan kekerasan di lingkungan sekolah beserta akibatnya.

Sehingga kelak diharapkan bisa mencegah perundungan di lingkungan sekolah, salah satu kasus yang masih menjadi masalah di dalam dunia pendidikan dimana data riset dari Programme for International Students Assessment (PISA) di tahun 2018.

“Indonesia berada di urutan kelima tertinggi dari 78 negara sebagai negara yang paling banyak murid mengalami perundungan (bullying). Sementara menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah kasus pendidikan di Indonesia per tanggal 30 Mei 2018 adalah 161 kasus, dengan rincian; anak korban tawuran sebanyak 23 kasus atau 14,3 persen, anak pelaku tawuran sebanyak 31 kasus atau 19,3 persen, anak korban kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus atau 22,4 persen, anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 kasus atau 25,5 persen, dan anak korban kebijakan (pungli, dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah) sebanyak 30 kasus atau 18,7 persen,” paparnya.

BACA JUGA :  Praja IPDN Praktik Magang, Diharapkan Tingkatkan IPM Kudus

Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya.

Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang merunduk ke sana kemari. Dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah.

Pelaku bullying yang biasa disebut bully bisa seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya.

Korban juga mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa.

Ada tiga komponen penting bullying; 1. Kekuatan yang tidak seimbang (power imbalance), 2. Sesuatu yang berulang (repetitive actions), 3. Tindakan yang disengaja (intentional actions).

Sedangkan jenis-jenis bullying terbagi: 1. bullying fisik, 2. bullying verbal, 3. bullying relasional, 4. cyber bullying.

Mewakili Kepala Dinas Pendidikan Cabang Bireuen, Akmad Fazil, S.Pd, M.Pd menyampaikan, salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai sekolah pusat keunggulan adalah bentuk  sosialiasi dan penerapan anti perundungan.

BACA JUGA :  PGRI Tajurhalang Meriahkan Hari Guru Nasional dan HUT Ke-77 PGRI Dengan Berbagai Kegiatan

Dengan harapan, SMK Negeri 1 Peusangan dan lainnya dapat terbebas dari praktik perundungan sehingga  proses pembelajaran dapat berjalan tertib dan aman. (Hendra)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Pendidikan