0

SUMEDANG, INDONEWS | Jagung menjadi salah satu komoditas penting bagi petani di lereng Gunung Geulis, Sumedang, khususnya di Desa Jatiroke, Kecamatan Jatinangor. Namun, terbatasnya lahan membuat hasil panen jagung para petani, terutama anggota kelompok Taruna Tani Gunung Geulis, belum mampu memberikan pendapatan signifikan.

Sebagian besar jagung yang ditanam hanya dijadikan bahan pakan ternak, sementara penjualan jagung pipil memberikan keuntungan yang relatif kecil. Untuk menjawab persoalan ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) hadir memberikan solusi melalui pelatihan diversifikasi produk jagung, khususnya pembuatan tepung jagung dan pati jagung (maezena).

Pelatihan tersebut menyasar ibu-ibu PKK Desa Jatiroke yang berjumlah sekitar 30 orang. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB bertajuk “Peningkatan Diversitas Produk Hasil Panen Agroforestri Jagung dengan Cara Memproduksi Silase Probiotik dan Tepung Maezena pada Kelompok Taruna Tani Gunung Geulis Sumedang”.

Ketua tim PPM, Dr. Alfi Rumidatul, menjelaskan tujuan program adalah meningkatkan keterampilan perempuan desa dalam mengolah jagung agar memiliki nilai jual lebih tinggi. “Harga tepung dan pati jagung di pasaran lebih tinggi dibandingkan jagung pipil. Dengan begitu, petani bisa menambah pendapatannya,” ujar Alfi.

BACA JUGA :  FLS2SN Disdikbud Bireuen Perlombakan 5 Cabang

Dalam kegiatan ini, materi teknik pengolahan jagung disampaikan oleh Dr. Rijanti Rahaju M.Si atau Dr. Yanti, ahli teknologi pascapanen SITH ITB. Ia menegaskan bahwa tepung jagung memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan maezena, meski teksturnya lebih kasar.

“Pembuatan tepung jagung relatif mudah, hanya dengan menggiling jagung pipil kering. Sedangkan maezena butuh proses lebih rumit dengan rendemen limbah lebih besar,” kata Yanti.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama pelatihan. Ketua PKK Desa Jatiroke menyampaikan apresiasi kepada tim ITB yang telah membekali ibu-ibu dengan keterampilan baru.

“Kami bersyukur mendapat ilmu ini. Ke depan, ibu-ibu bisa berkreasi membuat olahan pangan berbahan jagung, sehingga menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.

Tim PPM SITH ITB juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pihak yang mendukung kegiatan, mulai dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendikbudristek, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat ITB, hingga Forum Komunikasi Gunung Geulis.

Melalui program ini, diharapkan petani Jatiroke tidak hanya menjual jagung dalam bentuk pipil, tetapi juga mampu menghadirkan produk olahan bernilai tambah yang membuka peluang pasar lebih luas.

BACA JUGA :  K3S Pamijahan: Pentingnya Partisipasi Masyarakat untuk Menyongsong Generasi Emas 2024

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Pendidikan