Ratusan Muslimat NU Abung Surakarta Perkuat Ukhuwah
LAMPUNG UTARA, INDONEWS – Pelataran Masjid Annajid, Dusun 2, Desa Bandar Abung mendadak berubah menjadi lautan hijau tua, Minggu (26/4/2026). Ratusan ibu-ibu dengan kerudung seragam berlist kuning emas tampak memadati lokasi sejak pagi.
Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. Para kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dari seluruh penjuru Kecamatan Abung Surakarta ini berkumpul untuk mengikuti Pengajian Triwulan sekaligus momen Halal Bihalal tingkat kecamatan.
Lebih dari Sekadar Pengajian Rutin
Kegiatan ini menjadi forum konsolidasi ukhuwah (persaudaraan) yang telah menahun menjadi perekat warga lintas desa di Abung Surakarta. Sebagai tuan rumah, Muslimat NU Desa Bandar Abung sukses memfasilitasi pertemuan besar ini.
Hadir sebagai penceramah, KH. Imam Muhtadi, Pengasuh Pondok Pesantren Barrul Fawaid Tahfidzul Qur’an Lampung Timur. Dalam tausiyahnya yang menyejukkan, ia menekankan esensi kebersihan hati.
“Halal bihalal itu bukan soal makan-makan, tapi soal membersihkan hati. Kalau hati ibu-ibu se-kecamatan bersih, keluarga akan adem dan desa-desa jadi tentram,” ujar KH. Imam Muhtadi di hadapan jamaah yang menyimak dengan khidmat.
Kepala Desa Bandar Abung, Edi Purnomo, S.E., menyatakan rasa bangganya atas kepercayaan menjadikan desanya sebagai pusat berkumpulnya para ibu Muslimat. Menurutnya, acara ini adalah modal sosial yang kuat untuk membangun kecamatan.
Namun, Edi juga memberikan catatan penting terkait tantangan zaman. Ia mengingatkan agar para ibu menjalankan peran sebagai madrasah atau guru pertama bagi anak-anak di rumah.
“Awasi anak-anak kita agar tidak terjerumus pengaruh negatif gadget, pergaulan bebas, hingga bahaya judi online,” tegas Edi Purnomo.
Ada pemandangan menarik dalam acara ini. Seragam hijau tua berlist emas yang dikenakan bukan sekadar identitas organisasi. Di masjid ini, status sosial dan batas geografis desa seolah melebur.
Ibu-ibu dari berbagai desa duduk sama rendah, mendengar tausiyah yang sama, dan mengamini doa yang sama. Halal bihalal ini menjadi “lem sosial” yang efektif untuk meredam potensi konflik antar-desa dan menumbuhkan semangat gotong royong.
Ke depan, energi besar dari Muslimat NU Abung Surakarta ini diharapkan tidak berhenti di meja pengajian. Tantangan berikutnya adalah mewujudkan gerakan nyata seperti:
- Literasi digital untuk ibu-ibu (Emak-emak melek teknologi).
- Gerakan pencegahan stunting di tingkat desa.
- Kelas pengasuhan anak (parenting) lintas desa.
Acara ditutup dengan doa dan sesi bersalam-salaman (mushafahah). Meski matahari Lampung Utara mulai menyengat, kesejukan silaturahmi tampaknya membekas lebih lama bagi para jamaah yang pulang membawa semangat baru ke desa masing-masing. (Andre)





























Comments