0

BIREUEN, INDONEWSSejak Indonesia meraih kemerdekaan, geliat pembangunan di berbagai sektor terus berlangsung.

Namun di balik kemajuan itu, masih ada ruang-ruang yang luput dari perhatian, salah satunya adalah keberlangsungan radio swasta lokal di daerah. Radio yang dahulu menjadi denyut nadi informasi masyarakat kini perlahan meredup, seakan kehilangan tempat di tengah arus zaman.

Salah satu yang merasakan hal tersebut adalah Radio Sonya Manis di Kabupaten Bireuen, yang telah berdiri sejak tahun 1974.

Selama lebih dari setengah abad, radio ini bukan sekadar media penyiaran, melainkan jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Ia hadir menyampaikan informasi, menjadi ruang dialog melalui program talk show, menyebarluaskan pesan pembangunan, hingga berperan dalam sosialisasi penting seperti pemilu dan program-program pemerintah lainnya.

Radio bukan hanya suara, ia adalah saksi sejarah. Ia pernah menjadi alat perjuangan, penyambung harapan, dan penjaga semangat kebangsaan.

Maka ketika radio mulai terdiam, sesungguhnya ada suara rakyat yang ikut meredup.

Namun kondisi saat ini jauh dari kata ideal. Dampak perubahan zaman dan minimnya perhatian membuat Radio Sonya Manis menghadapi tekanan berat.

BACA JUGA :  DPP PPSKI Pakum, Munas Harus Dipercepat Demi Selamatkan Organisasi

Sumber pemasukan dari iklan, terutama dari instansi pemerintah, hampir tidak lagi mengalir. Padahal, selama ini radio menjadi mitra strategis dalam menyampaikan berbagai program dan kebijakan kepada masyarakat luas.

Ketiadaan dukungan tersebut perlahan mengancam keberlangsungan radio sebagai media elektronik yang sarat manfaat.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin radio lokal akan satu per satu gulung tikar, dan bersamanya hilang pula salah satu pilar informasi publik yang paling dekat dengan masyarakat.

Pimpinan Radio Sonya Manis Bireuen, Sukirman Sulaiman, pada Sabtu (25/4/2026) menyampaikan harapannya dengan penuh keprihatinan.

Ia menegaskan bahwa sudah seharusnya pemerintah hadir untuk membangkitkan kembali perusahaan radio di daerah, bukan membiarkannya mati perlahan.

Terlebih, radio memiliki peran historis dalam perjalanan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Jika radio lokal mati, maka negara juga kehilangan,” ujarnya. “Kami tetap membayar pajak setiap tahun, namun tanpa dukungan dan pemberdayaan, radio tidak mampu menjalankan fungsinya secara maksimal sebagai pusat informasi publik. Kami hanya bisa diam, padahal masyarakat masih membutuhkan kami.”

BACA JUGA :  Bupati Pijay Terima Bantuan dari Bank Aceh

Ia juga mengenang masa lalu, ketika pada era Presiden Soeharto, para pemimpin perusahaan radio mendapat perhatian khusus dan diundang ke Istana sebagai mitra kerja pemerintah.

Hal tersebut menunjukkan bahwa radio pernah dipandang sebagai kekuatan penting dalam membangun komunikasi nasional.

Kini, harapan itu kembali disematkan kepada kepemimpinan Presiden Prabowo. Sukirman Sulaiman berharap pemerintah pusat dapat melihat langsung kondisi radio lokal, khususnya di Kabupaten Bireuen, dan memberikan dukungan nyata, seperti bantuan dana operasional secara berkelanjutan.

“Radio tidak meminta lebih, hanya ingin tetap hidup dan terus berkarya,” ungkapnya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, radio lokal tetap memiliki keunggulan: kedekatan dengan masyarakat, kehangatan suara, dan kepercayaan yang telah terbangun selama puluhan tahun. Sebab pada akhirnya, teknologi boleh berkembang, tetapi kebutuhan akan informasi yang jujur dan dekat dengan hati masyarakat tidak akan pernah tergantikan.

Ada sebuah pepatah bijak mengatakan, “Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan akar komunikasinya.” Radio adalah salah satu akar itu.

BACA JUGA :  Anggota Polres Tubaba Diberi Pencerahan Agama, Ini Tujuannya

Menjaganya tetap hidup berarti menjaga suara rakyat agar tetap terdengar. Kini, harapan itu masih menyala, menunggu tangan-tangan kebijakan yang peduli untuk kembali menghidupkan denyut radio lokal di negeri ini. (Hendra)

You may also like

Comments

Comments are closed.