0

BOGOR, INDONEWS – Kemunculan gumpalan busa di Sungai Cileungi, Kampung Parung, Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor masih misterius.

Dugaan sementara, gumpalan bisa tersebut akibat pencemaran atau limbah dari perusahaan yang dialirkan ke sungai.

Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Desa Bojong Kulur, Bimo mengaku sudah melaporkan hal ini ke beberapa dinas dan instansi terkait.

“Kejadian ini sudah kami laporkan karena ini sangat membahayakan bagi lingkungan,” ujarnya, belum lama ini.

Bimo mengatakan, akibat busa tersebut, banyak ikan mati, termasuk ikan sapu-sapu yang terbilang kuat bertahan hidup.

“Ikan sapu itu kuat. Tapi ini bisa mati. Artinya limbah ini sangat beracun dan bisa membahayakan warga sekitar dan ikan-ikan yang ada di aliran sungai,” katanya.

Menurut laporan warga yang ia terima, limbah ini mengeluarkan bau menyengat bahkan perih di mata, sehingga sangat menggangu penapasan.

Dirinya meminta dinas dan instansi terkait turun untuk menyelidiki kejadian ini dan mencari sumbernya dari mana, karena pencemaran sudah sering terjadi namun tidak ada tindakan tegas.

BACA JUGA :  Komandan Korem 061 Pimpin Pengamanan Kunjungan Kerja Presiden ke Bogor

“Saya minta dinas terkait turun menyelidiki. Jangan cuma turun, ambil sampel, namun tidak ada tindakan tegas dan tidak tahu penyebabanya,” pintanya.

Sementara di tempat terpisah, Ketua KP2C, Puarman saat dikonfirmasi wartawan menyebutkan bahwa pihak KLH sudah turun menindaklanjuti, sumbernya diduga dari Curug.

“Betul, hari Selasa 26 Juli 2022 jam 08.00 WIB sungai Cileungsi berbuih dan bau menyengat. Buih itu berasal dari Curug Parigi dan hanyut pada malam Selasa setelah ada kenaikan TMA sungai Cileungsi,” terangnya.

Menurut Puarman, sumber secara pasti buih belum diketahui, apakah dari wilayah Bogor atau Bekasi dan juga belum jelas apakah limbah pabrik atau bukan.

“KLHK sudah turun untuk menelusuri lebih lanjut. Hasilnya masih dalam pengumpulan data-data. Kebetulan saya ikut mendampingi,” jelasnya.

Dikatakan bahwa pemdes tidak dilibatkan dalam menindaklanjuti hal ini karena penelusurannya di wilayah lain.

“Yang turun dari KLHK saja, desa tidak ikut. Mungkin karena lokasi investigasi bukan di desa, tapi wilayah lain,” tutupnya. (Firm)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Bogor