BANDUNG, INDONEWS – Pelantikan Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) DPC Kabupaten Bandung berlangsung di gedung Oriza Stiva Distan Soreang, Kamis (16/2/2023).
Ketua DPD KPPI Jabar, Dra. Ratnaningsih MM., secara langsung melantik Dra. Eli Nurlaeli sebagai ketua terpilih DPC KPPI Kabupaten Bandung.
Dalam kesempatan tersebut, hadir sejumlah pengurus KPPI, termasuk Ketua DPD KPPI Dra. Hj. Ratnaningsih MM, Ketua terpilih Dra. Eli Nurlaeli, kemudian Kadis DP2KBP3A Haerun, Kepala Kesbangpol Ajat Sudrajat, anggota DPRD provinsi dari PAN Thoriqoh, kemudian DPRD provinsi partai Golkar Cucu Sugyati dan lainnya.
Ketua KPPI Jabar, Ratna menginginkan seluruh jajaran DPC KPPI Kabupaten Bandung mampu berkonsolidasi dengan pihak 30 DPAC se Kabupaten Bandung.
“Selanjutnya harus bisa merarawat dengan baik dan perjuangkan kembali demi keutuhan bersama. Termasuk para pengurus DPAC KPPI,” katanya.
Ratna memaparkan bahwa KPPI salah satu wadah atau organisasi yang independen yang menampung para kaum hawa atau emansipasi wanita di masing-masing lintas politik, bahkan sebagai pejuang dalam mensukseskan untuk menghadapi jelang pemilu serentak di tahun 2024 mendatang.
“Karena perjuangan tersebut, ujung tombaknya ada di tangan para pengurus di tingkat DPAC. Mudah-mudahan para kaum hawa yang sudah duduk sudah menerima mandat serta SK yang sah harus benar-benar yang berpotensi dan mampu berbobot,” pesannya.
Senada disampaikan Ketua DPC KPPI Kabupaten Bandung terpilih, Dra. Eli Nurlaili saat dikonfirmasi disela pelantikan berlangsung.
“Jadi perempuan itu bukan sekedar buat pelengkap, namun adalah pejuang. Bahkan lahirnya KPPI di Kabupaten Bandung adalah untuk membangkitkan kaum perempuan, dan tidak bisa bergerak atau pun berdiri sendiri yang tentunya harus melibatkan beberapa stake holder yang ada di Kabupaten Bandung,” ungkapnya.
Untuk bersinergi dengan dinas dinas terkait, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan konsolidasi dan bekerja sama dengan dinkes setempat, guna membahas masalah stunting. Sebab di Kabupaten Bandung stunting masih dianggap tinggi. (A. Rochim S/Yani Sumiati)




























Comments