LAMPUNG UTARA, INDONEWS – Senin siang itu, Arif (30) hanya bisa berdiri terpaku menatap truknya yang sudah dalam posisi rebah.
Di sekelilingnya, singkong-singkong hasil panen petani yang harusnya menjadi uang sekolah atau penyambung dapur, kini berserakan, kotor bercampur tanah merah di ruas jalan Pungguk Lama, Papan Rejo.
Arif selamat, namun jiwanya terguncang.
“Sudah pelan sekali, Mas. Tapi lubangnya dalam dan jalannya miring. Truk tidak kuat menahan beban dan langsung buang kiri,” ujarnya, dengan suara bergetar saat menyeka keringat di dahinya.
Bagi para sopir logistik seperti Arif, melintasi jalur di Kecamatan Abung Timur ini tak ubahnya melewati “medan perang”. Setiap jengkal jalan yang rusak parah memaksa mereka melakukan akrobat yang membahayakan nyawa demi memastikan hasil bumi sampai ke pabrik.
Kecelakaan ini bukan yang pertama, dan warga khawatir bukan yang terakhir. Di sela-sela evakuasi singkong, seorang warga setempat, Darma, meluapkan kekecewaannya yang telah memuncak selama bertahun-tahun.
“Sampai kapan kami harus begini? Apakah harus ada nyawa yang melayang dulu supaya aspal di sini diperbaiki?” cetus salah seorang warga dengan nada tinggi.
“Kami ini petani, kami pembayar pajak, tapi jalanan kami seperti jalur kerbau. Pemerintah tolonglah, tengok ke sini, lihat truk yang terbalik ini sebagai cermin kegagalan pembangunan di desa kami,” tambahnya.
Semoga warga lain berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Utara tidak menutup mata. Jalan ini adalah urat nadi ekonomi. Jika jalan rusak, harga angkut naik, dan harga jual singkong di tingkat petani jatuh. Kerusakan infrastruktur secara langsung telah memiskinkan mereka secara perlahan.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih bahu-membahu mengevakuasi muatan truk yang malang tersebut. Sore itu, debu yang beterbangan dari jalanan yang hancur seolah menyamarkan air mata para petani yang melihat hasil buminya terbuang sia-sia.
Insiden Arif adalah alarm keras. Ia adalah potret nyata betapa buruknya infrastruktur bisa melumpuhkan harapan rakyat kecil. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah: tetap diam membiarkan jalan memakan korban, atau bergerak memberikan hak warga atas jalan yang layak dan manusiawi.
Lebih dari Sekadar Truk Terbalik
Insiden yang menimpa Arif di jalur Pungguk Lama, Papan Rejo ini hanyalah “puncak gunung es” dari krisis infrastruktur yang mencekik warga Abung Timur. Di balik badan truk yang terguling, ada rantai kerugian yang memukul ekonomi warga secara sistemik.
Setiap kali truk terbalik atau sekadar terperosok, kualitas singkong menurun. Singkong yang pecah atau tertimbun tanah tidak akan dihargai sama oleh pabrik.
Selain itu, pemilik truk biasanya akan menaikkan ongkos angkut (biaya logistik) untuk menutupi risiko kerusakan kendaraan. Ujung-ujungnya, harga beli di tingkat petani ditekan serendah mungkin agar pengumpul tetap mendapat untung.
Jalur ini adalah penghubung vital. Ketika satu truk besar terbalik dan melintang, akses jalan tertutup atau terhambat selama berjam-jam. Akibatnya, kendaraan pengangkut hasil bumi lainnya terjebak kemacetan.
Bagi komoditas seperti singkong yang memiliki kadar air tinggi, keterlambatan pengiriman ke pabrik berarti penurunan bobot dan harga.
Bagi sopir dan pemilik armada, jalan rusak adalah “mesin penghancur” kendaraan. Ban lebih cepat botak, shockbreaker patah, dan sasis truk rentan bengkok.
Biaya perbaikan ini seringkali lebih besar daripada upah jalan yang diterima sopir, membuat profesi sopir logistik di Lampung Utara semakin tidak sejahtera.
Ketimpangan Pembangunan Desa-Kota
Ketidakadilan sangat terasa ketika warga melihat pembangunan di pusat kota Lampung Utara tampak megah, sementara jalur produksi di kecamatan seperti Abung Timur dibiarkan hancur.
Jika dibiarkan, ini akan memicu rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah daerah dalam pemerataan ekonomi.
Perbaikan jalan ini bukan lagi soal “kenyamanan berkendara”, melainkan darurat penyelamatan ekonomi rakyat. Selama lubang-lubang sedalam 30-50 cm masih menghiasi jalur ini, selama itu pula kesejahteraan petani Lampung Utara akan terus “terguling” di jalanan. (Red/AE)





























Comments