0

SUMEDANG, INDONEWS – Pemerintah Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, mengembangkan program ketahanan pangan yang terintegrasi dengan upaya percepatan penurunan stunting dan peningkatan gizi ibu hamil.

Program yang didukung Dana Desa serta kolaborasi dengan Puskesmas, PKK, dan BUMDes tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan pangan, tetapi juga membangun kemandirian pangan desa secara berkelanjutan.

Kepala Desa Cibeusi, H. Jajang, mengatakan program tersebut dirancang untuk menjawab persoalan stunting melalui dua pendekatan, yakni pemenuhan kebutuhan gizi dalam jangka pendek dan pembangunan kemandirian pangan dalam jangka panjang.

“Jangka pendeknya kami memastikan anak stunting dan ibu hamil mendapatkan tambahan asupan gizi setiap bulan. Sedangkan jangka panjangnya, kami ingin Desa Cibeusi tidak bergantung pada bantuan dari luar melalui pengembangan kebun desa, peternakan, dan lumbung pangan,” ujar H. Jajang.

Sebagai implementasi program, pemerintah desa memanfaatkan tanah kas desa untuk mengembangkan program ketahanan pangan yaitu kita budidayakan ikan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang masuk kategori rentan stunting maupun ibu hamil.

BACA JUGA :  Halal Bihalal Oleh Ketua RW 04 Kelurahan Jatiwaringin Banjir Pujian

Hasil panen tersebut diprioritaskan untuk dibagikan secara gratis atau dengan harga bersubsidi kepada keluarga sasaran sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, Desa Cibeusi juga menjalankan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASAT). Melalui program ini, kader PKK menyiapkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) setiap hari bagi anak usia 6 hingga 59 bulan yang mengalami stunting.

 

“Kita sajikan lauk hewani yaitu  ikan, dengan kandungan gizi yang disesuaikan standar kebutuhan kalori dan protein. Sementara itu, ibu hamil memperoleh paket tambahan berupa telur, kacang hijau, susu, serta tablet tambah darah yang didukung Puskesmas,” kata Jajang.

Jajang menerangkan, ikan adalah sebagai sumber protein murah bagi masyarakat, maka kami bagikan langsung hasil panen ikan ini bagi ibu ibu hamil dan Stunting.

Tidak hanya memberikan bantuan pangan, pemerintah desa bersama kader kesehatan juga rutin melakukan edukasi kepada para ibu mengenai pemberian MPASI yang tepat, pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat melalui sanitasi dan kebiasaan mencuci tangan.

BACA JUGA :  Generasi Muda Kosgoro Ajak Pemuda Peduli Literasi dan Gemar Membaca

Menurut H. Jajang, edukasi menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai stunting agar kasus yang telah tertangani tidak kembali terjadi.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima bantuan makanan, tetapi juga memahami pola asuh dan pola makan yang benar sehingga kualitas kesehatan anak-anak ke depan semakin baik,” katanya.

Program tersebut didukung pembiayaan dari alokasi Dana Desa untuk sektor ketahanan pangan, bantuan Puskesmas, Dinas Kesehatan, BKKBN, serta peluang kerja sama dengan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR.

Agar penyaluran bantuan tepat sasaran, pemerintah desa terlebih dahulu melakukan pendataan bersama kader Posyandu dan bidan desa terhadap anak stunting maupun ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronik (KEK). Data penerima dipublikasikan secara terbuka di balai desa sebagai bentuk transparansi.

Masyarakat juga dilibatkan dalam kegiatan gotong royong, mulai dari menanam, memasak hingga mendistribusikan makanan kepada keluarga penerima manfaat.

Model partisipatif tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif bahwa penanganan stunting merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen desa. (cng)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Ragam