BOGOR, INDONEWS – Dalam memperingati HUT RI ke-78, pemerintah Desa Jonggol mengadakan acara penganugerahan di berbagai bidang kepada masyarakat yang berkiprah dalam membangun Desa Jonggol.
Penganugerahan tersebut diberikan kepada masyarakat di bidang Kebudayaan, Kepemudaan, Lingkungan, Keagamaan, Sosial, Peranan Wanita, Kemasyarakatan, Kesehatan, Relawan. Selain itu Pemdes Jonggol pun memberikan penghargaan kepada Ketua RT terbaik, Ketua RW terbaik, dan Kampung terbaik.
Penghargaan ini adalah sebagai bentuk apresiasi Pemdes Jonggol yang selama ini luput dari perhatian pemerintah tingkat desa. Maka penghargaan ini diharapkan dapat menstimulasi masyarakat lainnya dalam berperan membangun desa.
“Di dalam Sustainable Development Goal’s (SDG’s), masyarakat bukan hanya objek dalam pembangunan, namun mereka adalah pelaku pembangunan, sehingga akan mudah terbentuk mindset bahwa sumber daya manusia bukan hanya sebagai Human Resources tetapi juga sebagai Human Capital,” ungkap Kepala Desa Jonggol, H. Yofi Mohamad Safri, S.E., M.Si., kepada Media Indonews, Sabtu (19/8/2023).
Yofi menuturkan, untuk giat Gebyar Kemerdekaan di tahun mendatang, Pemdes Jonggol ingin memberikan juga penganugerahan kepada warga yang rajin mengkritik kinerja Pemerintah Desa.
“Namun saat ini Pemdes Jonggol belum menemukan kriteria nama penghargaan yang tepat untuk disematkan. Ada beberapa masukan yang kami terima untuk nama penghargaan tersebut di antaranya Kritikus terbaik, Buzzer terbaik, Advocatus Diaboli terbaik, bahkan ada masukan yang lucu yaitu Nyinyirer terbaik,” ungkap Yofi, panggilan akrab kepala desa, sambil tersenyum.
Tanpa kritik dari masyarakat, menurutnya pemerintah Desa dapat terlena. Mereka menghabiskan waktu dan pikirannya untuk turut serta membangun Desa Jonggol tanpa dibayar sepeser pun dengan berkontribusi memberikan kritik.
“Pemerintah Desa Jonggol harus membuka diri untuk dikritik bahkan dihujat demi akselerasi atau percepatan pembangunan,” ujar Yofi.
Berdasarkan penelusuran media, Kepala Desa Jonggol adalah salah satu warga Jonggol yang lama berkiprah di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Luar Negeri.
Selama 12 tahun di KBRI Swedia dan 3 tahun di KBRI Jepang, tentunya Yofi sangat mumpuni dalam hal komunikasi, protokoler, hirarki, organisasi, managemen, keuangan serta leadership.
Tidak heran orang nomor satu di Desa Jonggol yang tinggal lama di Eropa dan Jepang ini memiliki banyak pengalaman bukan hanya di tingkat nasional namun di tingkat internasional.
Perantau yang turun gunung ke Desa Jonggol ini benar-benar ingin melakukan perubahan di Desa Jonggol.
Tidak heran jika beliau mendapatkan kemenangan mutlak dari 5 kontestan Calon Kepala Desa dengan memperoleh hampir separuh total suara yaitu 4.018 suara dari total 9.000 lebih suara yang sah di pilkades yang dilaluinya.
Kepala desa yang berlatar belakang pendidikan S1 Ekonomi ini, baru saja menyelesaikan pendidikan beasiswa di Sekolah Pemerintah Desa di IPB Bogor tahun 2022 silam dan langsung melanjutkan jenjang Pendidikan S2 di Menara Siswa hingga lulus di tahun 2023 ini.
Bagi Yofi investasi isi kepala sangat penting tidak mengenal batasan usia agar tidak menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya.
Konon, beliau disebut juga keturunan Padjadjaran. Maka tidak heran jika sang Kakek pun menjadi Kepala Desa di wilayah Kecamatan Jonggol yang dikenal dengan Lurah Kartobi.
Jiwa patriotisme sangat nampak dari uraian visi Desa Jonggol yaitu Menjadikan Desa Jonggol Bersih Maju Modern Mandiri Berakhlak dan Berbudaya dalam Persatuan.
Dalam penampilannya, Yofi terlihat humble dan supel namun tegas dalam dalam bersikap dan cepat dalam mengambil keputusan. Kesederhanaan penampilan yang beliau bawakan tidak akan mengira jika beliau adalah keluarga pengusaha di mana keluarganya memiliki Perusahaan yang saat ini memiliki 2 buah SPBU Pertashop Pertamina di Jonggol dan Cariu. Usaha lain di bidang jasa keuangan dan property lainnya pun dijalani keluarga besar sang kades.
Saat media menanyakan berapa miliar jumlah aset sang kades, beliau menjawab dirinya orang biasa dan bukan orang kaya seperti yang orang kira.
“Kalau mau lihat orang kaya, lihat saja Bob Sadino seperti apa penampilannya. Beda kok orang kaya dengan orang kaya wanna be,” katanya, sambil tertawa.
Mengakhiri pembicaraan, Yofi mengatakan nanti lihat di LHKPN berapa tabungan ia selama 15 tahun di luar negeri dengan gaji dollar dan hasil usahanya, karena nanti ke depannya semua Kepala Desa harus melaporkan setiap tahun kekayaanya kepada Negara saat menjabat. (Jay)





























Comments