Oleh: Johnner Simanjuntak
Seluruh proses tahapan seleksi terhadap tiga calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor telah selesai.
Panitia seleksi (pansel) yang terdiri dari orang-orang pilihan, lima orang dari Kemendagri dan Pemprov Jabar sudah melakukan fit & prefer test, bahkan wawancara pada bulan Mei 2024.
Namun hingga memasuki pertengahan bulan Agustus ini, belum juga ada penetapan atau pelantikan sekda definitif untuk menggantikan Pj. sekda sekarang.
Kini, masyarakat Kabupaten Bogor terus bertanya-tanya tanya, ada apa gerangan yang terjadi? Padahal ketiga calon yang sudah menjalani tahapan seleksi sudah dinyatakan lolos dan memenuhi syarat.
Kepada penulis, di daerah Gunung Putri Utara ada beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja di sebuah warung kecil tiba-tiba bertanya; “Om, kapan sih sekda baru akan dilantik?” tanyanya.
Tak pelak, saya tersentak. Ternyata bukan lagi hanya kaum terpelajar yang peduli terhadap hal itu.
Lalu spontan saya menjawab sekaligus mengelak; “Kok tanya saya?”
Tiba-tiba ada seorang yang bergumam; “Sudahlah. Si om pelit memberikan jawab. Kita tanya saja rumput yang bergoyang,” katanya, sembari tertawa terbahak-bahak.
Penulis dalam opini edisi beberapa waktu yang lalu juga sudah menyajikan pendapat tentang hal ini, bahkan mempertanyakan, adakah kaitan politik di dalamnya?.
Akibat dari leletnya penetapan sekda definitif, tak dapat dipungkiri bahwa hal ini akan berpengaruh pada kinerja di jajaran birokrasi SKPD.
Misalnya, ketika elemen masyarakat hendak menyampaikan sesuatu, saran, pendapat ataupun uneg-uneg kepada para pejabat terkait di kantornya, maka kerap kecewa karena pejabat tersebut jarang ada di kantor.
Jawaban yang sering disuguhkan para petugas di bagian penerima tamu, bahwa pejabatnya sedang tidak ada di ruangan, sedang keluar kantor, sedang rapat, sedang bimtek dan lain-lain.
Jabatan sekretaris daerah itu sangat penting atau strategis yang mengendalikan seluruh ketara usahakan atau keadministrasian, juga dalam mengambil kebijakan-kebijakan penting.
Sehingga, tidaklah sepatutnya dipertontonkan kepada publik hal-hal yang mengundang banyak persepsi. Harus transparan, jangan dibuat rumit terlebih diseret-seret ke arena politik.
Kalau bisa dipermudah, kenapa dibuat sulit?? Sebuah penantian. Kita tunggu.





























Comments