BIREUEN, INDONEWS – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Bireuen menunjukkan komitmen kemanusiaannya dengan menyalurkan ratusan paket berbuka puasa kepada para korban banjir di empat gampong dalam wilayah Kabupaten Bireuen.
Ketua DPC PDIP Kabupaten Bireuen, Munzir, yang akrab disapa Mandala, didampingi Sekretaris Mawardi Hs dan Bendahara Junaidi Idris, kepada Kabar Bireuen, Senin (2/3/2026), menyampaikan bahwa bantuan tersebut diberikan dalam bentuk makanan siap konsumsi.
“Setiap hari mulai Senin, 2 Maret 2026 hingga berakhirnya Ramadan tahun ini, kami akan mengantarkan makanan berbuka puasa untuk para korban banjir di empat gampong,” ujar Munzir.
Bantuan ini diharapkan mampu meringankan beban para penyintas, khususnya mereka yang kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan berat pada rumah akibat banjir.
Di tengah suasana Ramadan yang seharusnya penuh ketenangan, sebagian warga justru diuji dengan musibah. Karena itu, kehadiran bantuan ini menjadi simbol solidaritas dan empati.
Munzir merincikan empat gampong penerima bantuan tersebut, yakni: Gampong Pante Lhong dan Gampong Kapa di Kecamatan Peusangan; Gampong Lueng Kuli di Kecamatan Peusangan Selatan; Gampong Ujong Blang di Kecamatan Kuta Blang.
Seluruh paket berbuka puasa berupa nasi lengkap dengan lauk-pauk dan minuman segar itu disiapkan di dapur umum PDIP Bireuen sebelum didistribusikan langsung kepada warga terdampak.
Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Bireuen, Mawardi Hs, juga terlihat menyerahkan secara langsung bantuan paket berbuka kepada penyintas banjir yang menempati hunian darurat di Gampong Pante Lhong, Kecamatan Peusangan.
Menurut Mandala, kegiatan ini bukan sekadar agenda sosial, melainkan panggilan nurani.
“Ramadan adalah bulan berbagi. Di saat saudara-saudara kita diuji dengan musibah, sudah sepatutnya kita hadir untuk saling menguatkan. Karena sejatinya, nilai kemanusiaan tidak diukur dari seberapa besar yang kita miliki, tetapi dari seberapa tulus kita memberi,” tuturnya.
Ia menambahkan, partai sebagai bagian dari elemen masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk terus hadir di tengah rakyat, terlebih saat mereka menghadapi kesulitan.
“Musibah boleh datang silih berganti, tetapi semangat kebersamaan tidak boleh surut. Selama kita saling menggenggam, tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul bersama,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa solidaritas dan gotong royong tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Bireuen dalam menghadapi bencana, sekaligus menghidupkan makna Ramadan sebagai bulan penuh rahmat, kepedulian, dan harapan. (Hendra)





























Comments