Laksanakan Manajemen Logistik, Trauma Healing, dan Bakti Sosial bagi Korban Banjir di Kecamatan Jangka
BIREUEN, INDONEWS — Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Angkatan ke-83/WPS Sindikat XII melaksanakan rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Dianmas) hari ke-3 di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, dengan mengusung kegiatan Manajemen Logistik, Trauma Healing, serta Bakti Sosial bagi warga terdampak banjir.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan wujud nyata implementasi nilai-nilai kepemimpinan, kepedulian sosial, dan pengabdian Polri kepada masyarakat.
Di tengah kondisi pascabencana, kehadiran para mahasiswa STIK menjadi simbol bahwa negara senantiasa hadir bersama rakyatnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan Manajemen Logistik melalui koordinasi intensif bersama Polsek Jangka. Pendataan dilakukan secara sistematis terhadap jumlah pengungsi, kondisi wilayah terdampak, serta langkah-langkah pemulihan yang telah berjalan.
Proses ini diawali dengan dialog langsung bersama personel Polsek serta pemanfaatan panel situasi sebagai dasar penyusunan rencana distribusi bantuan.
Pendekatan berbasis data tersebut bertujuan memastikan bantuan yang disalurkan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
Hal ini mencerminkan pentingnya perencanaan yang matang dalam setiap respons kemanusiaan, karena bantuan yang tepat bukan hanya soal jumlah, tetapi juga ketepatan dan kebermanfaatannya.
Setelah pelaksanaan manajemen logistik, kegiatan dilanjutkan dengan Trauma Healing dan Bakti Sosial di Desa Alue Kuta, Kecamatan Jangka. Kegiatan dipusatkan di posko pengungsian yang menaungi 56 kepala keluarga dengan total 187 warga terdampak banjir.
Trauma healing dilaksanakan melalui berbagai permainan edukatif dan interaktif bagi anak-anak. Suasana ceria sengaja dihadirkan untuk membantu memulihkan kondisi psikologis mereka yang sempat terguncang akibat bencana.
Tawa dan keceriaan anak-anak menjadi pengingat bahwa harapan tidak pernah benar-benar padam, bahkan di tengah keterbatasan.
Pada kesempatan tersebut, mahasiswa STIK juga membagikan snack kepada anak-anak sebagai bentuk perhatian dan dukungan moral. Sentuhan sederhana itu menjadi bukti bahwa kepedulian sering kali hadir dalam hal-hal kecil yang bermakna besar.
Tidak hanya bagi anak-anak, mahasiswa turut menyalurkan bantuan sosial berupa sembako dan beras kepada warga dewasa guna membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa pemulihan.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mempercepat proses bangkit dari dampak bencana.
Sebagai bagian dari pelayanan terpadu, kegiatan ini juga menghadirkan layanan pengobatan gratis oleh dokter dari Klinik Polres Bireuen. Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk memastikan kondisi para pengungsi tetap terpantau dan tertangani dengan baik.
Kesehatan menjadi fondasi utama dalam proses pemulihan, karena masyarakat yang sehat akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan pascabencana.
Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa STIK Angkatan ke-83 tidak hanya melaksanakan pembelajaran lapangan, tetapi juga menanamkan nilai bahwa kepemimpinan sejati lahir dari empati dan keberpihakan kepada masyarakat.
Ilmu dan strategi menjadi bermakna ketika disertai kepekaan sosial dan ketulusan dalam melayani.
Kegiatan Dianmas ini menjadi refleksi bahwa pengabdian bukan sekadar kewajiban institusional, melainkan panggilan moral. Dalam setiap musibah, selalu ada ruang untuk menghadirkan harapan.
Dan di sanalah peran generasi penerus Polri diuji, untuk hadir, mendengar, bekerja, dan menguatkan.
Semoga langkah kecil yang dilakukan hari ini menjadi bagian dari upaya besar membangun masyarakat yang tangguh, serta mempererat sinergi antara aparat dan warga dalam semangat kebersamaan dan gotong royong. (Hendra)





























Comments