Pohon Dirawat Bertahun-tahun, Dihancurkan Seketika Tanpa Perencanaan
BIREUEN, INDONEWS – Apa yang dulunya diharapkan menjadi simbol keindahan dan kesejukan kota, kini justru berubah menjadi potret nyata pemborosan anggaran yang menyakitkan.
Tanaman pohon yang ditanam sejak bertahun-tahun lalu di atas trotoar jalur dua Jalan Nasional Medan–Banda Aceh, tepatnya mulai dari kawasan Simpang IV, kini berakhir tragis, hancur dan tak bernilai, menyisakan ironi di tengah pembangunan.
Pohon-pohon tersebut sebelumnya dirawat secara rutin oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bireuen, dengan menggunakan anggaran negara yang diduga mencapai miliaran rupiah.
Setiap tetes air yang disiramkan, setiap perawatan yang dilakukan, semula ditujukan untuk menghadirkan wajah Kota Juang yang hijau, asri, dan nyaman dipandang. Namun hari ini, semua upaya itu seperti tak pernah berarti.
Pantauan di lapangan pada Jumat (17/4/2026) memperlihatkan dengan jelas bagaimana proyek pembongkaran trotoar yang sedang berlangsung justru menghancurkan tanaman-tanaman tersebut.
Pekerjaan yang dilakukan oleh pihak perusahaan pelaksana menyebabkan pohon-pohon yang sebelumnya tumbuh dan terawat kini berubah menjadi “bangkai proyek”, kering, tercabut, dan terabaikan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: di mana letak perencanaan yang matang? Mengapa proyek pembangunan justru saling bertabrakan dan mengorbankan hasil kerja sebelumnya? Jika sejak awal telah direncanakan secara terintegrasi, kerugian seperti ini seharusnya bisa dihindari.
Seorang warga Kabupaten Bireuen berinisial MH dengan tegas menyuarakan kekecewaannya.
“Ini jelas mubazir. Anggaran sudah dikeluarkan, tapi hasilnya justru dihancurkan kembali. Ini bukan sekadar kelalaian, tapi bentuk ketidakseriusan dalam merencanakan pembangunan,” ungkapnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bireuen, Zaldi, AP., S.Sos., belum berhasil dikonfirmasi karena sedang dalam kesibukan.
Sementara itu, proyek pembongkaran trotoar masih terus berjalan. Ironisnya, di lokasi pekerjaan belum terlihat adanya papan informasi proyek yang seharusnya memuat rincian anggaran, sumber dana, serta identitas pelaksana.
Minimnya transparansi ini semakin memperkuat kesan bahwa proyek berjalan tanpa keterbukaan kepada publik.
Peristiwa ini menjadi cerminan bahwa pembangunan tanpa perencanaan yang matang hanya akan melahirkan pemborosan dan kekecewaan. Anggaran yang seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, justru berujung pada kehancuran yang sia-sia.
“Pembangunan yang tidak direncanakan dengan hati dan akal sehat hanya akan melahirkan luka bagi negeri. Sebab sejatinya, yang dibangun bukan hanya jalan dan trotoar, tetapi juga kepercayaan rakyat dan kepercayaan yang rusak jauh lebih sulit diperbaiki daripada sekadar beton yang retak.” (Hendra)





























Comments