BOGOR, INDONEWS – Setelah dipertemukan oleh Kepala Desa Cipeucang, di jalan raya Cileungsi-Jonggol, Kampung Tengah, Nomor 32, RT 007/RW 004, Desa Cipeucang, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, konflik warga dan perusahaan CV. Platinum Primoris berakhir damai.
Konflik berawal dari puluhan warga yang mengaku terganggu dengan adanya aktivitas pabrik baja CV. Platinum Primoris. Warga mengeluh suara bising mesin potong dari balik tembok pabrik yang lokasinya mepet dengan rumah warga, sehingga mengganggu istirahat warga sekitar.
Nota kesepekatan sendiri ditandatangani Kepala Desa Cipeucang Gopur Atmaja, Pemimpin Perusahaan CV. Platinum Primoris Iko Dinata, dan Ketua LSM Penjara Romi Sikumbang serta warga setempat.
Musyawarah diadakan di kantor desa, turut dihadir dan menjadi saksi Bhabinkamtibmas, Binwil Satpol PP Desa Cipeucang, aparatur desa, RT dan warga serta perwakilan perusahaan.

Dalam musyawarah, berhasil disepakati 3 poin, di antaranya, warga lingkungan Kp. Tengah RT 007, RW004, Desa Cipeucang yang berdekatan dengan CV. Platinum Primoris menyetujui segala bentuk kegiatan CV. Platinum Primoris.
Selanjutnya CV. Platinum Primoris akan memberikan kompensasi kepada warga sekitar sesuai kemampuan CV. Platinum Primoris. Dan apabila di kemudian hari kesepakatan ini tidak sesuai, maka akan ditinjau kembali.
Dalam keterangannya, Kepala Desa Cipeucang, Gopur Atmaja mengaku bersyukur, musyawarah antara warga dan CV. Platinum Primoris menemukan kesepakat.
“Alhamdulillah konflik antara warga kampung tengah dengan CV. Platinum Primoris berujung damai dan bersepakat dengan dituangkan dalam surat penyataan dari perusahaan,” jelasnya, usai mediasi, Selasa (14/2/2023).
Ia berharap kesepakatan ini dijalankan oleh perusahaan maupun warga demi terwujudnya ketertiban dan kenyamanan semua pihak.
“Saya berharap kesepakatan ini dijalankan dan juga dipatuhi. Kedua belah pihak agar terjalin harmonisasi antara warga dan pengusaha sehingga terwujud kenyamanan bersama,” tukasnya.
Sementara itu, perwakilan dari CV. Platinum Primoris, Iko Dinata sebagai pimpinan di perusahaan tersebut mengatakan bahwa keluhan dari warga sekitar menjadi integritas untuk perusahaan agar lebih baik lagi dan berhati-hati kedepannya.
“Kalau terkait keluhan ini, ya bagus juga, jadi ini kan kebuka juga integritasnya, selama ini kan tertutup dan kita juga enggak tahu. Dengan begini kita berkumpul jadi kita bisa tahu sebenarnya warga itu bagaimana. Kedepan kami akan lebih hati-hati,” katanya.
Ia menuturkan, terkait tuntutan warga terhadap perusahaan tersebut berupa kebisingan, aturan jam kerja dan kompensasi perbulannya.
“Terkait kompensasi nanti mungkin kami akan coba bicarakan lagi dengan warga sekitar dan kalau untuk kebisingannya kami akan menguranginya, serta untuk jam kerja kami akan berusaha sampai jam 5 sore,” tuturnya.
Ia berharap untuk perusahaan dan warga sekitar kedepannya bisa menjalin kerja sama lebih baik lagi tanpa merugikan siapapun. (Firm)




























Comments