0

BOGOR, INDONEWS —  Aktivis H. Nur Kholis dikenal sebagai salah satu sosok yang getol berjuang pada bidang advokat, meski ia juga dikenal akrab sebagai tukang kayu yang menyukai bunyi pahat memotong kayu, dan pecinta mobil jadulan yang merawat setiap bagian mesin dengan cinta.

Namun dibalik itu semua, tersembunyi semanggat juang kuat dari seorang aktivis sekaligus Ketua Kantor Hukum Abri yang bernama Advokat H. Nur Kholis.

Hal tersebut diungkapkan sesama aktivis, Jonny Sirait. Menurutnya dalam dua dunia yang tampak berbeda, namun Nur Kholis saling melengkapi antara ketelitian sebagai tukang kayu dan keuletan sebagai pecinta mobil jadulan.

“Ia telah mencerminkan bagaimana memperjuangkan kebenaran dengan teliti dan tidak pernah menyerah, tidak seperti banyak orang pada umumnya yang berorientasi pada uang dan nilai materi,” kata Jonny saat ditemui di bilangan Cibinong Bogor, Minggu (28/12/2025).

Melawan Ketidakadilan

Jonny yang juga Ketua DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) menemukan bahwa Nur Kholis melawan ketidakadilan seperti menemukan jalur untuk mesin jadul.

“Dalam perjalanan sejarah bangsa, sering kita temui sosok yang berjuang di garis belakang, jauh dari sorotan, namun berpengaruh besar dalam menentukan arah masa depan. H. Nur Kholis adalah salah satunya: seorang advokat dan aktivis idealis yang berkomitmen memperjuangkan keadilan di tengah naiknya arus ketidakadilan,” puji Jonny.

BACA JUGA :  Kasus Pekerja Migran, Menteri P2MI Diminta Bertindak

Wakil Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Jawa Barat itu pun mengibaratkan H. Nur Khilis seperti H. Agus Salim yang dengan cerdik menggunakan pena dan lidah untuk menegakkan martabat Indonesia di panggung dunia.

“Nur Kholis juga memegang peranan penting dalam memperjuangkan hak-hak yang terpinggirkan. Di era di mana banyak mengabaikan keadilan demi kekuasaan dan materi, dia tetap teguh, percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan perlindungan hukum yang adil, sama seperti bagaimana dia berusaha agar setiap bagian mesin mobil jadulan berfungsi dengan sempurna, tanpa memandang waktu dan tenaga yang dikeluarkan,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Jonny sosok Nur Kholis menjadi suara bagi yang tak teredukasi, seperti membangun bangunan dari kayu bersih.

“Dia tidak hanya melawan di ruangan sidang, ia juga berjuang untuk mengedukasi masyarakat. Dinamikanya sebagai advokat mengingatkan kita bahwa pendidikan hukum adalah alat penting dalam mencapai keadilan. Sama seperti Panglima Jenderal Sudirman yang berjuang dengan keterbatasan kesehatannya namun gigih dalam perjuangan gerilya,” papar Jonny.

Nur Kholis dinilai rela mengorbankan waktu dan energi demi memastikan masyarakat memahami hak-hak mereka, bahkan ketika tantangan terasa seberat peperangan gerilya.

“Sebagai tukang kayu, ia tahu bahwa bangunan kuat dimulai dari pondasi yang kokoh. Begitu juga dengan perjuangan keadilan, ia membangun kesadaran masyarakat dari dasar, sehingga setiap orang bisa menjadi suara bagi diri sendiri dan orang lain yang terpinggirkan, semua itu dilakukan dengan niat tulus, bukan untuk mencari keuntungan pribadi,” katanya.

BACA JUGA :  Bersama KemenPANRB, Pemkab Bogor Paparkan Capaian Kinerja

Pria berdarah Batak itu juga mengetahui betul jika Nur Kholis kerap menulis sebagai bentuk perlawanan, seperti mengukir makna pada kayu.

“Di tengah minimnya komitmen tulus dalam memperjuangkan keadilan, Nur Kholis menekankan pentingnya menulis. Bagi para aktivis, tulisan adalah senjata yang mampu mengubah pandangan, menyebarkan kesadaran, dan membangkitkan kepedulian, sama seperti bagaimana pahatnya mengukir makna pada kayu yang tadinya polos,” paparnya.

Melalui tulisan, imbuh Jonny, ia mengungkapkan kebenaran yang sering terabaikan, mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan terlibat dalam upaya menciptakan perubahan.

“Setiap kata yang ditulis adalah langkah kecil menuju dunia yang lebih adil, seperti setiap goresan pahat yang membentuk karya kayu yang berarti,” ujarnya.

Nur Kholis menurut Jonny juga kerap menyampaikan edukasi dibalik layar, mengajarkan cara “memperbaiki” dunia.

“Ia mengetahui bahwa perubahan terjadi dari bawah. Nur Kholis secara konsisten mengedukasi para calon advokat dan aktivis muda. Ia percaya bahwa pendidikan yang baik akan melahirkan generasi penerus yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, sama seperti bagaimana ia mengajarkan orang lain cara merawat mobil jadulan agar tetap awet, sehingga warisan masa lalu tetap terjaga,” paparnya.

BACA JUGA :  Rawan Curanmor, Aktivis Pertanyakan Kinerja Keamanan Metland

Dalam era yang sering dipenuhi kepentingan pribadi, menurut Jonny, sosok Nur Kholis juga menunjukkan bahwa perjuangan sejati memerlukan komitmen dan semangat yang tidak tergoyahkan, seperti ketekunan Sudirman dalam perjuangan, atau ketekunan dia dalam menyelesaikan proyek kayu atau memperbaiki mesin jadulan yang sulit.

Epilog: Menjaga Keutuhan Sejarah Keadilan

Hari ini, kata Jonny, ketika banyak memilih mengorbankan idealisme demi kepentingan pribadi, H. Nur Kholis berdiri tegar sebagai advokat dan aktivis yang mengingatkan akan makna sejati perjuangan.

“Sejarah tidak boleh kering; tinta sejarah ini harus terus dituliskan dan dilestarikan, sama seperti bagaimana ia merawat mobil jadulan agar tidak hilang dari kenangan, atau bagaimana dia melestarikan nilai-nilai kebenaran melalui pekerjaannya,” katanya.

Jonny mengatakan, perjuangan untuk keadilan bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama. Dalam setiap pena yang menulis, dalam setiap suara yang didengar, dalam setiap pahat yang mengukir, dan dalam setiap mesin yang diperbaiki, ada kekuatan untuk menciptakan perubahan.

“H. Nur Kholis menjadi bukti bahwa meskipun tantangan berat, keadilan akan selalu bisa ditegakkan apabila kita memiliki tekad dan keinginan tulus untuk memperjuangkannya, tanpa perlu mencari sorotan atau keuntungan materi,” tandasnya. (didi/rdk)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Bogor