BOGOR, INDONEWS – Belakangan ini, bencana alam menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia.
Gempa bumi Cianjur menjadi salah satu bukti bahwa alam sedang tidak bersahabat.
Selain itu, aksi teror juga menambah kekhawatiran masyarakat, khususnya pasca aksi bom bunuh diri di depan Mapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, kemarin.
Kaitan itu, sebagai aktivis sosial, politikus yang juga tokoh masyarakat Kabupaten Bogor, Jonny Sirait mengingatkan masyarakat tidak terlalu khawatir, namun harus tetap waspada atas segala kemungkinan yang dapat terjadi.
“Sejatinya, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Namun kita sebagai manusia harus bisa berikhtiar dan berdoa agar terhindar dari mara bahaya,” kata Jonny, saat ditemui wartawan, Kamis (8/12/2022) petang.

Khususnya saat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023, Jonny mengingatkan masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan. Ia pun menyarankan masyarakat mengintensifkan siskamling atau ronda malam.
“Aksi terorisme seringkali terjadi menjelang momen Nataru. Oleh sebab itu, saya juga mengingatkan supaya Polri melalui Densus 88, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) hingga Badan Intelejen Negara (BIN) tidak bekerja sendiri-sendiri. Ketiga badan itu yang harus bekerja secara sinergi,” papar Jonny.
Menurutnya penanggulangan Terorisme khususnya mendekati momentum Nataru menjadi tugas bersama. Ketiga lembaga itu diharapkan bekerja secara harmonis.
Antisipasi Bencana
Jonny juga mengingatkan masyarakat Kabupaten Bogor untuk senantiasa mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam. Terlebih, Kabupaten Bogor menjadi salah satu wilayah rawan bencana.
“Selain itu, lembaga terkait pun perlu menguatkan sinergi mitigasi dini agar masyarakat dapat terhindar dari risiko akibat bencana. Ada dua potensi bencana yang kerap terjadi saat musim hujan. Yaitu banjir dan tanah longsor. Maka untuk mengantisipasi dampak dari dua bencana tersebut, pengawasan dan kewaspadaan dini perlu dilakukan,” papar Jonny.
Pemerintah diharapkan pria berdarah Batak itu dapat mengenali wilayah yang ditempati dari sudut pandang potensi kebencanaan, baik oleh masyarakat, lembaga terkait, ataupun oleh para peneliti melalui berbagai kajian.
Ia menjelaskan, ada beberapa upaya mitigasi yang bisa dilakukan masyarakat. Pertama, masyarakat harus mengenal kondisi topografi wilayahnya, apakah di hulu, hilir, punggungan, lembahan, atau dataran.
“Selain mengenal topografi, pengenalan kondisi lahan juga perlu diperhatikan. Misalnya, apakah di wilayah hulu ada perubahan fungsi lahan, atau apakah kondisi sungai yang mengalir menjadi sempit karena pembangunan,” terangnya.
Dengan memahami itu, maka masyarakat akan tahu daerah berpotensi banjir bandang atau berpotensi tergenang cukup tinggi.
Upaya kedua, menurut Jonny adalah menyiapkan sistem peringatan dini (early warning system). Pengenalan topografi dan kondisi wilayah katanya akan menentukan seberapa besar potensi bencana yang akan terjadi.
“Hal ini juga mendorong masyarakat untuk waspada dan tahu lokasi mana yang bisa dipersiapkan untuk evakuasi apabila banjir sewaktu-waktu terjadi. Selain itu, masyarakat juga bisa melakukan antisipasi dengan memosisikan benda-benda berharga di tempat yang aman serta menyiapkan perlengkapan yang sesuai dengan bencana banjir. Agar mitigasi berjalan optimal, upaya ini memerlukan koordinasi baik antarwilayah. Koordinasi wilayah hulu dengan hilir perlu dilakukan agar masyarakat bisa mengantisipasi sedini mungkin terhadap bencana banjir,” tandasnya. (bintono)





























Comments