BIREUEN, INDONEWS — Warga Pasar Kering, Desa Meunasah Capa, Dusun Blok Bireuen, menggelar syukuran sekaligus peusijuek tepung tawar atas dimulainya usaha baru milik warga setempat, “Suryadi Menjahit dan Siddoi Konveksi”, Selasa (25/8/2026).
Acara sederhana tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Kegiatan ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa bersama agar usaha yang baru dirintis senantiasa diberikan kelancaran, keberkahan, kesehatan, serta rezeki yang halal dan melimpah.
Prosesi peusijuek diawali dengan pembacaan doa bersama. Para warga dan keluarga yang hadir memanjatkan doa agar usaha tersebut dapat berkembang dengan baik serta memberikan manfaat, bukan hanya bagi pemilik usaha, tetapi juga bagi masyarakat di sekitarnya.
Setelah prosesi doa dan peusijuek selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sarapan pagi bersama. Hidangan yang disajikan pun cukup sederhana, namun penuh makna kebersamaan, yakni kopi, ketan kuning, serta kue timpan khas Aceh.
Kesederhanaan hidangan tidak mengurangi kehangatan acara. Justru, kebersamaan warga yang duduk bersama, berbincang, menikmati sajian seadanya, dan saling memberikan doa serta dukungan menjadi bagian penting dari suasana syukuran tersebut.
Dalam tradisi masyarakat Aceh, peusijuek merupakan salah satu bentuk ungkapan syukur dan doa yang telah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat.
Dalam perspektif Islam, tradisi tersebut dapat dimaknai sebagai sarana mempererat silaturahmi dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, selama pelaksanaannya tidak mengandung keyakinan atau praktik yang bertentangan dengan ajaran tauhid.
Makna utama dari peusijuek bukanlah pada benda atau perlengkapan yang digunakan, melainkan pada doa, rasa syukur, silaturahmi, dan harapan baik yang menyertainya.
Dengan demikian, tradisi tersebut dapat menjadi momentum untuk mengingat bahwa setiap keberhasilan dan kesempatan membuka jalan usaha pada hakikatnya merupakan nikmat yang patut disyukuri kepada Allah SWT.
Membuka usaha baru juga bukan sekadar persoalan mencari keuntungan. Lebih dari itu, sebuah usaha merupakan ikhtiar untuk membangun kemandirian, membuka peluang pekerjaan, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan manfaat melalui jalan rezeki yang halal.
Pemilik usaha, Suryadi, menyampaikan rasa syukur atas dimulainya usaha tersebut. Ia berharap “Suryadi Menjahit dan Siddoi Konveksi” dapat berjalan lancar, mendapat kepercayaan masyarakat, serta berkembang secara bertahap.
Menurutnya, dukungan keluarga dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam memulai sebuah usaha. Doa dan dukungan dari warga juga menjadi penyemangat untuk terus bekerja dengan tekun, jujur, dan memberikan pelayanan terbaik.
“Yang paling utama adalah bersyukur kepada Allah SWT. Kami berharap usaha ini dapat berjalan dengan baik, diberikan kelancaran, serta bisa menjadi sumber rezeki yang halal dan membawa manfaat bagi keluarga maupun masyarakat,” ujar Suryadi kepada media ini.
Ia juga menyadari bahwa perjalanan sebuah usaha tidak selalu mudah. Diperlukan ketekunan, kesabaran, kreativitas, serta kemampuan menjaga kepercayaan pelanggan.
Karena itu, momentum syukuran tersebut sekaligus menjadi pengingat untuk memulai usaha dengan niat yang baik dan semangat untuk terus belajar.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong dan persaudaraan di tengah masyarakat.
Bagi warga, keberhasilan seorang anggota masyarakat dalam membuka usaha merupakan kebahagiaan bersama yang patut didukung.
“Rezeki yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang diperoleh, tetapi tentang seberapa besar keberkahan dan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.”
Dalam Islam, ikhtiar dan doa merupakan dua hal yang berjalan beriringan. Manusia diperintahkan untuk berusaha, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
Karena itu, membuka usaha dengan niat mencari rezeki yang halal, bekerja secara jujur, menjaga amanah, dan memberikan manfaat kepada sesama merupakan bagian dari ikhtiar yang bernilai positif.
Peusijuek dalam momentum pembukaan usaha tersebut akhirnya tidak hanya menjadi sebuah acara seremonial.
Ia menjadi simbol harapan dan doa agar langkah baru yang dimulai hari ini mendapat keberkahan di masa mendatang.
Ketan kuning, kopi, dan kue timpan yang tersaji di tengah kebersamaan warga mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu tersimpan nilai yang jauh lebih besar: syukur atas nikmat Allah, doa untuk masa depan, serta persaudaraan yang terus dipelihara.
Semoga Suryadi Menjahit dan Siddoi Konveksi menjadi usaha yang tumbuh dengan kejujuran, ketekunan, dan keberkahan; menjadi sumber rezeki yang halal bagi keluarga, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat Desa Meunasah Capa dan sekitarnya.
Sebab, sebagaimana sebuah nasihat bijak, “Usaha adalah langkah kaki menuju cita-cita, doa adalah penguat hati dalam perjalanan, dan keberkahan adalah tujuan yang membuat sebuah perjuangan menjadi berarti.” (Hendra)





























Comments