0

BANDUNG, INDONEWS | Masyarakat Arborikultur Indonesia (MArI) mendorong penguatan ekosistem industri arborikultur di Jawa Barat agar berkembang secara profesional, aman, dan berkelanjutan. Upaya itu dilakukan melalui mini workshop bertajuk Membangun Ekosistem Industri Arborikultur Jawa Barat yang Profesional, Aman, dan Berkelanjutan, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, dan calon profesional untuk membahas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, standar profesi, serta inovasi dalam pengelolaan pohon, khususnya di kawasan perkotaan.

Ketua Pengurus Pusat MArI Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnaen Siregar mengatakan, perkembangan arborikultur semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan pengelolaan pohon di kawasan perkotaan. Pohon, menurut dia, bukan sekadar elemen penghijauan, tetapi bagian dari ekosistem yang memberikan berbagai jasa lingkungan.

“Arborikultur memiliki peran yang semakin strategis dalam membangun ekosistem perkotaan yang hijau dan berkelanjutan. Pengelolaan pohon harus dilakukan secara ilmiah dan profesional, mulai dari pemilihan jenis, penanaman, pemeliharaan, hingga pengelolaan risiko pohon,” ujar Iskandar.

Sementara itu, Prof. Dr. Lina Karlinasari menekankan pentingnya standar profesional dan kompetensi sumber daya manusia dalam pekerjaan arborikultur. Standar tersebut diperlukan untuk memastikan pekerjaan dilakukan secara berkualitas sekaligus menjamin keselamatan pekerja, masyarakat, dan lingkungan.

BACA JUGA :  209 Guru PAI Bireuen Resmi Sandang Gelar Guru Profesional

“Profesionalisme dalam arborikultur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis. Diperlukan standar kompetensi dan pemahaman yang menyeluruh agar setiap pekerjaan dapat dilakukan dengan baik dan aman,” kata Lina.

Teknologi Deteksi Pohon Gerowong

Workshop juga memperkenalkan inovasi teknologi Terawang yang dikembangkan Dr. Ir. Akhmadi Surawijaya dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu mendeteksi keberadaan bagian gerowong pada pohon melalui pemeriksaan kondisi internal. Inovasi ini dinilai berpotensi mendukung proses pemeliharaan dan pengelolaan risiko pohon.

“Pengembangan teknologi perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Melalui Terawang, kami berupaya menghadirkan pendekatan teknologi yang dapat mendukung proses deteksi dan pemeriksaan kondisi internal pohon,” ujar Akhmadi.

Selain diskusi, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pelantikan Pengurus MArI Komisariat Daerah Jawa Barat. Dr. Ir. Yayat Hidayat dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB dilantik sebagai Ketua MArI Komisariat Daerah Jawa Barat.

Yayat mengatakan, kepengurusan baru akan memperkuat jejaring antara organisasi profesi, perguruan tinggi, pemerintah, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

BACA JUGA :  Wali Kota Sukabumi: Pendidikan Sejatinya Tugas Keluarga

“MArI Komisariat Daerah Jawa Barat diharapkan dapat menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pihak untuk bersama-sama membangun ekosistem arborikultur yang profesional, aman, dan berkelanjutan,” katanya.

Kegiatan ini juga diikuti mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan ITB. Kehadiran mahasiswa dinilai penting untuk memperkenalkan perkembangan arborikultur dan teknologi pengelolaan pohon kepada generasi muda.

MArI berharap penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi, standar profesional, serta inovasi dapat mempercepat perkembangan arborikultur di Indonesia. Pengelolaan pohon yang berbasis pengetahuan dinilai semakin dibutuhkan seiring meningkatnya tantangan menjaga ruang hijau dan ekosistem perkotaan. (*/rls)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Pendidikan