BANDUNG, INDONEWS | Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) mendorong penerapan teknologi tepat guna untuk membantu mengatasi persoalan sampah di Kota Bandung, khususnya di wilayah Bandung Wetan dan Kelurahan Citarum.
Program tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus mendorong pengolahan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya.
Ketua Tim PPM ITB, Ramadhani Eka Putra, mengatakan program tersebut dilatarbelakangi persoalan penumpukan sampah yang masih menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Bandung.
Selama ini, sampah dari Kota Bandung umumnya diangkut dan dikirim ke TPA. Namun, keterbatasan kapasitas TPA menyebabkan sebagian sampah tidak dapat terangkut dan akhirnya menumpuk di sejumlah titik.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan lingkungan.
“Bandung Wetan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian karena berada di sekitar Institut Teknologi Bandung, pusat pemerintahan, sekaligus kawasan wisata Kota Bandung,” ujar Ramadhani, Juli 2026 lalu.
Menurut dia, persoalan sampah di Bandung Wetan, terutama Kelurahan Citarum, cukup kompleks. Kawasan tersebut mencakup pusat pemerintahan, berbagai unit usaha makanan, hingga permukiman warga dengan karakteristik yang beragam.
Salah satu komponen terbesar sampah yang dihasilkan adalah sampah organik yang berasal dari rumah tangga maupun unit usaha. Karena itu, dibutuhkan pendekatan berbasis sistem dan teknologi yang dapat diterapkan di tingkat komunitas.
Melalui program PPM tersebut, ITB menargetkan sejumlah capaian, di antaranya menguji kesesuaian teknologi tepat guna untuk pengolahan sampah, meningkatkan partisipasi masyarakat, merevitalisasi sistem penanganan sampah komunal, serta mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA.
Terapkan Beragam Teknologi
Pelaksanaan program diawali dengan survei lapangan di lokasi penanganan sampah komunal dan permukiman warga. Tahap tersebut dilakukan untuk mengetahui karakteristik sampah sekaligus kondisi fasilitas yang telah tersedia.
“Selanjutnya, masyarakat penerima manfaat diberikan sosialisasi mengenai teknologi pengolahan sampah yang akan diterapkan. Pemilihan teknologi disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik wilayah berdasarkan hasil survei,” ujarnya.
Salah satu teknologi yang didiseminasikan adalah Rubako, yakni infrastruktur komposting bawah tanah berukuran besar untuk mengolah limbah organik rumah tangga. Sistem tersebut dirancang agar proses pengolahan berlangsung secara tertutup dan lebih bersih.
ITB juga memperkenalkan ember tanam Jangsesa yang mengombinasikan proses komposting di dalam tanah dengan budidaya Black Soldier Fly (BSF).
Teknologi tersebut memungkinkan pengolahan limbah organik sekaligus pemanenan larva BSF dengan mengurangi kontak langsung pengelola dengan limbah serta potensi cemaran dari lalat lainnya.
“Berdasarkan data pelaksanaan program, sejak 8 Maret hingga 1 September 2026 telah digunakan 210 ember Jangsesa. Dari jumlah tersebut tercatat sekitar 145 kilogram sampah berhasil diolah dengan hasil panen mencapai 57 kilogram,” paparnya.
Selain Jangsesa, ITB juga menerapkan teknologi Loseda. Sejak 8 April hingga 8 September 2026, tercatat sebanyak 40 unit Loseda digunakan dengan kapasitas muatan sampah mencapai 3,3 kilogram.
Teknologi lainnya adalah vermikompos dan insect composting. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengolah jenis limbah organik tertentu, terutama limbah berbasis sayuran dan serat yang relatif sulit dicerna oleh BSF.
“Program juga mencakup pengembangan metode penyimpanan dan pengolahan bahan makanan, sistem urban farming dengan memanfaatkan produk turunan pengolahan sampah, serta pengembangan bank sampah mini,” katanya.
Revitalisasi Fasilitas
Tidak hanya memperkenalkan teknologi baru, ITB juga melakukan revitalisasi sejumlah fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia di lokasi.
Revitalisasi dilakukan terhadap tempat koleksi sampah dengan memperbaiki dan memasang wadah yang mendukung pemilahan sampah secara terukur.
Instalasi pengolahan limbah menggunakan BSF juga diperbaiki, terutama berkaitan dengan prosedur operasional standar (SOP), pengendalian aroma, serta pengelolaan hasil panen dan pascapanen BSF.
Pada fasilitas pengomposan, ITB melakukan sejumlah perbaikan. Metode pengomposan aerobik di permukaan yang selama ini diterapkan dinilai menghadapi kendala keterbatasan tenaga kerja.
Untuk mempercepat proses, disediakan mesin pencacah sampah sehingga ukuran material menjadi lebih kecil. Masyarakat juga diperkenalkan dengan metode bokashi serta bagging composting untuk mengolah limbah taman dan sampah rumah tangga.
Revitalisasi turut menyasar fasilitas bata terawang dan Loseda. Penggunaan bata terawang diperbaiki agar tidak hanya menjadi fasilitas produksi kompos yang membutuhkan waktu lama. Sementara Loseda ditingkatkan fungsi sekaligus nilai estetikanya.
Fasilitas peternakan ayam juga diperbaiki untuk mengurangi dampak lingkungan yang dikeluhkan masyarakat. Kandang tersebut dirancang agar dapat menjadi bagian dari taman sekaligus ruang berkumpul warga.
Sementara itu, instalasi budidaya ikan diarahkan pada pemanfaatan limbah organik sebagai bahan pakan. Program tersebut sekaligus mengenalkan budidaya ikan skala rumah tangga kepada masyarakat.
Dievaluasi Setiap Dua Bulan
Untuk memastikan program berjalan efektif, Tim PPM ITB melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala setiap dua bulan.
“Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektivitas teknologi yang diterapkan, tingkat partisipasi masyarakat, sekaligus mengidentifikasi kendala yang muncul selama pelaksanaan program,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, ITB berharap pengelolaan sampah di Kota Bandung tidak hanya bergantung pada proses pengangkutan menuju TPA.
Sampah organik diharapkan dapat diolah sedekat mungkin dengan sumbernya sehingga volume sampah yang harus dibuang ke TPA dapat ditekan.
Program tersebut sekaligus menjadi upaya mendorong masyarakat agar terlibat aktif dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas dengan memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan kondisi lingkungan perkotaan.
“Dengan penerapan teknologi tepat guna dan keterlibatan masyarakat, pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti pada persoalan membuang sampah, tetapi berkembang menjadi sistem pengolahan yang menghasilkan manfaat kembali bagi lingkungan dan masyarakat,” tandasnya. (/rls)





























Comments