0

“Sampai Hari Ini Kami Belum Merasakan Perhatian”

BIREUEN, INDONEWS — Sejumlah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), termasuk mereka yang pernah berstatus tahanan politik (Tapol) dan narapidana politik (Napol), mempertanyakan komitmen Badan Reintegrasi Aceh (BRA) terhadap keberlanjutan program reintegrasi di Aceh.

Salah seorang mantan kombatan GAM di Kabupaten Bireuen berinisial MOK mengaku hingga kini dirinya bersama sejumlah rekan seperjuangan belum merasakan perhatian maupun bantuan yang diharapkan dari BRA.

Padahal, menurut MOK, bantuan reintegrasi sangat penting bagi mantan kombatan dan eks-Tapol/Napol untuk membangun kembali kehidupan pascakonflik.

Bantuan tersebut, apabila disalurkan secara tepat sasaran, dapat menjadi modal usaha, menopang kebutuhan keluarga, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Sudah sekian lama perdamaian berlangsung, tetapi kami masih mempertanyakan perhatian terhadap nasib mantan kombatan dan rekan-rekan yang dahulu ikut dalam perjuangan. Sampai hari ini, kami belum merasakan perhatian sebagaimana yang kami harapkan,” ujar MOK kepada media, Jumat (4/9/2026).

MOK menilai persoalan reintegrasi tidak boleh berhenti sebatas seremonial atau menjadi bagian dari catatan sejarah perdamaian Aceh.

BACA JUGA :  Tujuh PL dan Belasan Miras Diamankan Dalam Operasi Pekat di Sukamakmur

Menurutnya, keberadaan BRA semestinya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang menjadi bagian dari proses perdamaian.

Ia juga mempertanyakan langkah konkret BRA dalam memperjuangkan dan mengalokasikan anggaran untuk program pemberdayaan mantan kombatan, baik melalui pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat.

“BRA harus menunjukkan keberpihakan yang nyata. Jangan sampai lembaga yang dibentuk untuk menjalankan agenda reintegrasi justru dianggap tidak hadir ketika masyarakat membutuhkan solusi,” tegasnya.

Menurut MOK, bantuan yang dikelola dengan mekanisme transparan dan tepat sasaran bukan hanya akan membantu mantan kombatan secara individu.

Program tersebut juga dinilai dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi dengan mendorong penerima membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya.

“Kalau ada bantuan yang benar-benar diarahkan untuk usaha produktif, kami bisa bekerja, membangun usaha dan bahkan membuka lapangan pekerjaan. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk kami, tetapi juga untuk masyarakat,” katanya.

Ancaman Aksi Demonstrasi

Ketidakpuasan tersebut, kata MOK, tidak menutup kemungkinan akan berujung pada aksi terbuka. Ia mengaku bersama sejumlah rekan seperjuangan tengah mempertimbangkan untuk mendatangi Kantor BRA guna menyampaikan tuntutan secara langsung.

BACA JUGA :  Kapolres Lampung Utara Kumpulkan Satpam, Ada Apa?

“Kami tidak ingin terus hanya menunggu. Kalau aspirasi kami tidak mendapatkan respons, kami bersama rekan-rekan siap menyampaikan tuntutan secara terbuka ke Kantor BRA. Kami menuntut kejelasan, perhatian dan keadilan,” ujarnya.

MOK berharap BRA tidak menutup mata terhadap persoalan yang masih dirasakan sebagian mantan kombatan, Tapol dan Napol di Aceh. Ia meminta pemerintah dan pihak terkait membuka ruang dialog serta memberikan penjelasan mengenai kebijakan, mekanisme, dan realisasi program bantuan reintegrasi.

Bagi MOK, perdamaian Aceh tidak semestinya hanya diukur dari berhentinya konflik bersenjata, tetapi juga dari sejauh mana para pihak yang terdampak konflik dapat memperoleh kesempatan untuk membangun kehidupan yang layak.

“Perdamaian harus memiliki manfaat yang nyata. Jangan sampai kami hanya diingat ketika berbicara tentang sejarah perjuangan dan perdamaian, tetapi dilupakan ketika berbicara tentang masa depan,” pungkasnya. (Hendra)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Peristiwa