0

BEKASI, INDONEWS Karya Anak Bekasi berbasis TKDN hingga 80 persen ini menggabungkan listrik PLN, panel surya, dan baterai dalam satu sistem Hybrid Power Supply. KADIN Kota Bekasi siap membuka jalan menuju pasar nasional.

Siapa sangka, sebuah gang permukiman di Jaticempaka, Pondokgede, menyimpan teknologi yang menantang dominasi genset berbahan bakar solar.

Dari Workshop 77 Power Quality, para insinyur lokal mengembangkan Hybrid Power Supply (HPS), sistem kelistrikan pintar yang bekerja senyap, hemat energi, dan siap menjaga listrik tetap menyala ketika pasokan PLN terputus.

Lahir berbagai perangkat kelistrikan karya anak bangsa dengan kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 70 hingga 80 persen. Sisanya masih menggunakan komponen impor untuk memenuhi spesifikasi teknis tertentu.

Jika selama ini banyak orang menganggap teknologi canggih hanya lahir dari kawasan industri besar atau perusahaan multinasional, Workshop 77 Power Quality justru membuktikan sebaliknya.

Dari sebuah workshop di gang permukiman, mereka mampu menghasilkan sistem kelistrikan yang kini telah digunakan di berbagai sektor strategis di Indonesia.

Salah satu inovasi terbarunya adalah HPS (Hybrid Power Supply), sebuah sistem catu daya pintar yang dirancang sebagai alternatif pengganti genset sekaligus UPS (Uninterruptible Power Supply).

Teknologi tersebut dikembangkan oleh Direktur Teknik Protensius Wongga, bersama tim rekayasanya. Untuk pengembangan pasar dan pemasaran produk, Workshop 77 Power Quality menggandeng PT Harmoni Mitra Sukses (HMS) yang berkantor di Jalan Swakarya No. 1, Jatibening Baru, Pondokgede, Kota Bekasi, dengan Suharto sebagai direkturnya.

BACA JUGA :  KA Argo Bromo Tabrak KRL, Korban Disinyalir Terus Bertambah

Berbeda dengan sistem cadangan listrik konvensional yang hanya mengandalkan satu sumber energi, HPS memadukan tiga sumber daya sekaligus, yakni listrik PLN, panel surya, dan baterai penyimpanan energi.

Ketika listrik PLN padam, sistem secara otomatis berpindah ke sumber cadangan dalam hitungan detik sehingga komputer, server, peralatan medis, maupun perangkat elektronik lainnya tetap bekerja tanpa mengalami gangguan.

“HPS bukan sekadar alat cadangan listrik. Sistem ini kami rancang agar pengguna memperoleh kontinuitas pasokan listrik sekaligus efisiensi energi melalui pemanfaatan tenaga surya,” ujar Protensius Wongga, Rabu (29/6/2026).

Menurut Wongga, kapasitas baterai maupun konfigurasi sistem dapat dirancang sesuai kebutuhan pengguna (tailor made). Karena itu, HPS dapat diaplikasikan mulai dari rumah tinggal, gedung perkantoran, rumah sakit, kampus, pusat data (data center), industri manufaktur, hingga fasilitas publik yang membutuhkan pasokan listrik tanpa putus.

Keunggulan lainnya terletak pada efisiensi operasional. Berbeda dengan genset berbahan bakar solar yang menghasilkan suara bising, emisi gas buang, serta membutuhkan biaya bahan bakar dan perawatan berkala, HPS bekerja nyaris tanpa suara.

Ketika dipadukan dengan panel surya, sistem ini juga mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan.

Namun HPS hanyalah satu di antara berbagai inovasi yang dikembangkan Workshop 77 Power Quality.

Workshop tersebut juga memproduksi perangkat power quality system, sistem proteksi petir, isolation transformer, PLC industri, hingga berbagai perangkat kelistrikan khusus yang dirancang berdasarkan kebutuhan pelanggan.

BACA JUGA :  Bank Sampah Setia Diresmikan

Prinsip kerja mereka sederhana. Ketika sebuah persoalan teknis tidak menemukan solusi di pasaran, maka solusinya adalah menciptakan produk baru.

“Kalau pelanggan datang dengan kebutuhan yang belum ada produknya, kami akan merancangnya dari nol. Kami tidak sekadar menjual produk, tetapi memberikan solusi teknologi,” kata Wongga.

Kemampuan rekayasa itu membawa produk-produk Workshop 77 Power Quality digunakan di berbagai sektor strategis. Mulai dari perlindungan alat medis di rumah sakit, jaringan ATM perbankan, BTS telekomunikasi, stasiun pemancar televisi, radar, hingga instalasi milik BMKG.

Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan nasional juga telah memanfaatkan teknologi tersebut, di antaranya Mabes Polri, sejumlah fasilitas BIN, TVRI, kawasan industri, hingga perusahaan pertambangan di Morowali, Sulawesi Tengah.

Bahkan, perangkat yang dikembangkan Workshop 77 Power Quality juga dimanfaatkan untuk sistem penyediaan listrik pompa air di sejumlah daerah terpencil.

Direktur PT Harmoni Mitra Sukses, Suharto, mengatakan kemampuan rekayasa tersebut menjadi bukti bahwa pelaku UMKM teknologi di Indonesia mampu menghasilkan produk yang tidak kalah dengan produk luar negeri.

“Kami ingin menunjukkan bahwa karya anak Bekasi mampu bersaing. Kalau ada kebutuhan yang sangat spesifik, kami siap membuatnya sesuai kebutuhan pengguna,” ujarnya.

Potensi itulah yang menarik perhatian Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar atau Bang QRS, saat mengunjungi Workshop 77 Power Quality.

Bagi Bang QRS, Bekasi selama ini dikenal sebagai kota industri manufaktur. Namun, di balik citra tersebut, ternyata tumbuh industri rekayasa teknologi yang mampu menghasilkan inovasi dengan nilai tambah tinggi.

BACA JUGA :  Kapolres Metro Bekasi Akan Sidak Kembali Galian C Diduga Ilegal di Cibarusah

“Kita memiliki karya anak Bekasi yang luar biasa. Kandungan TKDN-nya tinggi, teknologinya modern, dan sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong penggunaan energi baru terbarukan. Produk seperti ini harus mendapat ruang di pasar nasional,” ujarnya.

Ia menilai sudah saatnya pemerintah daerah, BUMD, rumah sakit, kawasan industri, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha di Kota Bekasi mulai melirik teknologi karya anak daerah sebagai alternatif solusi kelistrikan yang lebih efisien.

Karena itu, Kadin Kota Bekasi berkomitmen membantu membuka akses pasar dengan memperkenalkan berbagai produk Workshop 77 Power Quality kepada Pemerintah Kota Bekasi maupun para pemangku kepentingan lainnya.

“Kami siap menjembatani komunikasi dengan calon pengguna. Sayang kalau inovasi sehebat ini hanya dikenal di lingkungan workshop. Sudah saatnya karya anak Bekasi menjadi kebanggaan nasional sekaligus menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegas Bang QRS.

Di tengah derasnya arus teknologi impor, kisah Workshop 77 Power Quality memberi pesan yang berbeda. Bahwa inovasi tidak selalu lahir dari gedung-gedung pencakar langit atau laboratorium perusahaan multinasional.

Dari sebuah gang di Jaticempaka, Pondokgede, sekelompok anak bangsa membuktikan bahwa teknologi masa depan dapat dirancang, diproduksi, dan dikembangkan di Kota Bekasi, untuk menjawab kebutuhan energi Indonesia yang semakin efisien, andal, dan berkelanjutan. (Supri)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Bekasi