LAMPUNG UTARA, INDONEWS — Teh di gelas sudah setengah dingin. Di luar, suara motor masih lalu-lalang seperti biasa. Tapi di ruang tamu Kantor PWRI Lampung Utara sore itu, yang dibahas bukan hal biasa.
Kabid Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Lampung Utara, Feri Wijaya, datang langsung ke kantor PWRI. Ia tidak datang membawa pembelaan. Ia datang untuk duduk bersama dan mendengar.
Topiknya sederhana: Lampung Utara yang bersih, sikep, dan anggun. Kalimat itu ringan diucap, tapi berat ditanggung. Di baliknya ada lelah panjang, ada titik-titik pembuangan liar yang diam-diam jadi luka, ada harapan yang pelan-pelan nyaris padam.
Ini bukan obrolan warung kopi. Ini obrolan orang-orang yang masih mau peduli.
“Mungkin kita salah lihat,” kata seseorang pelan di tengah obrolan. “Sampah itu bukan musuh. Ia cermin. Cermin dari cara kita memperlakukan rumah sendiri.”
PWRI menyambut dengan catatan kecil, hasil ngobrol dengan warga, hasil melihat sendiri sudut-sudut kota yang sering terlewat. Tidak ada data besar, hanya cerita-cerita kecil yang kalau dikumpulkan, jadi gambaran betapa lelahnya kota ini menahan bau dan tumpukan.
Dari obrolan hampir dua jam itu, beberapa hal mengendap. Bukan perintah, tapi ajakan.
Pertama, mulai dari rumah.Kalau warga mau memilah sampah dari dapur, beban di TPA berkurang. Tidak perlu teknologi mahal, cukup kebiasaan kecil yang dijaga bersama. Butuh contoh, butuh pendampingan, butuh kesabaran.
Kedua, hidupkan lagi TPS 3R. Tempat-tempat pengolahan kecil itu dulunya hidup, sekarang banyak yang mati. Padahal di sanalah sampah organik bisa kembali jadi tanah, plastik bisa punya nilai lagi. Menghidupkannya berarti menghidupkan harapan.
Ketiga, jangan biarkan DLH berjalan sendiri. PWRI bilang, mereka siap jadi corong. Komunitas, media, RT/RW, semua punya peran. Kalau hanya satu dinas yang bergerak, rasanya seperti menyapu daun dengan sapu lidi satu batang.
Keempat, ketegasan yang manusiawi. Edukasi penting, tapi tanpa ketegasan pada pembuangan liar yang berulang, kebiasaan baik mudah pudar. Bukan untuk menghukum, tapi untuk menjaga.
Di sela obrolan, evaluasi jujur juga keluar. Bukan untuk menunjuk siapa salah, tapi biar ke depan jalannya lebih ringan.
Untuk Pemkab Lampung Utara, PWRI menyarankan agar program kebersihan jangan berhenti di seremoni. Konsistensi lebih penting dari gema acara. Warga lebih percaya kalau mereka lihat truk datang tepat waktu, TPS 3R benar-benar berfungsi, dan petugas lapangan diberi dukungan cukup.
Untuk masyarakat, kritiknya sederhana: jangan buang tanggung jawab ke pemerintah saja. Kota bersih tidak akan lahir kalau setiap malam masih ada yang diam-diam buang sampah ke sungai dan pinggir jalan. Kesadaran itu yang paling mahal, dan itu tugas kita semua.
Feri mendengarkan semuanya tanpa memotong. Di akhir, ia mengatakan dengan pelan, “Kami butuh teman jalan. Pemerintah tidak bisa sendirian. Kalau semua mau terlibat, Lampura bersih itu bukan mimpi.”
Sebelum berpisah, Feri juga menyampaikan terima kasih kepada pengurus dan anggota PWRI Lampung Utara.
“Terima kasih atas kontrol sosial yang terus dilakukan. Apresiasi untuk PWRI yang mau mengingatkan kami lewat media. Kritik itu bukan beban, justru dorongan supaya kami bisa menata pengelolaan sampah lebih baik ke depan,” ujarnya.
Tidak ada tanda tangan, tidak ada foto bersama dengan pose kaku. Obrolan itu selesai begitu saja, seperti obrolan biasa yang jarang terjadi. Tapi entah kenapa, rasanya ada yang berubah.
Lampung Utara belum seutuhnya bersih, tapi setidaknya, di ruang kecil itu, ada orang-orang yang masih mau duduk bersama dan bicara jujur. Dan kadang, dari situlah kota yang lelah mulai belajar bernapas lagi. (Andre)





























Comments