0

BOGOR, INDONEWSRatusan petani anggota Kerukunan Tani Cimande (KTC) Desa Lemah Duhur, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, menggeruduk Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, Jawa Barat, Kamis, 30 April 2026.

Mereka yang berjumlah 120 orang berjuang mencari keadilan dalam agenda sidang pembuktian di PTUN.

Ke 120 petani berangkat menggunakan satu unit bus dan satu unit kendaraan roda empat dengan biaya patungan menuju PTUN Bandung di Jalan Diponegoro No 34, Kota Bandung.

Mereka hadir dalam sidang pembuktian untuk memberikan dukungan moral terhadap KTC yang diwakili oleh H Achmad Suhaimi, sebagai Ketua Umum yang juga sebagai penggugat/principal.

Sedangkan tergugat I BPN Kabupaten Bogor dan tergugat II intervensi PT Panorama Agro Lemah Duhur.

“Saya mengapresiasi kehadiran para petani yang turut hadir di PTUN Bandung atas keinginan para petani sendiri. Kehadiran ratusan petani ini adalah untuk memberikan dukungan moral kepada KTC sebagai bentuk kesamaan orang-orang yang terdzolimi oleh oknum para biong-biong mafia tanah dan meminta kepada majelis hakim PTUN Bandung untuk memberikan putusan yang seadil-adilnya, bagaimana nasib masa depan kami para petani yang sudah berpuluh puluh tahun bertani sebagai penggarap,” ungkap Achmad Suhaimi.

BACA JUGA :  Aktivis Mahasiswa Desak Pemdes Nagrak Buat Laporan Atas Pemalsuan SKDU

KTC, lanjut Suhaimi, meminta kepada Menteri ATR BPN RI Nusron Wahid, Dirjen Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan Iljas Tedjo Prijono, dan Kepala Kanwil BPN Jabar Yuniar Hikmat Ginanjar untuk menindak oknum yang telah bermain sehingga terbitnya SHGB No 170, 182, 183, 184 atas nama PT Panorama Agro Lemah Duhur yang terbit tahun 2023.

“Terbitnya SHGB ini disinyalir adanya mall administrasi karena tidak dilakukan secara prosedur,” pungkasnya.

Sedangkan kuasa hukum KTC, Pahala Manurung dan Stenny Widya Asmara dalam pernyataan persnya mengatakan akan mengawal dalam memperjuangkan para petani sampai tuntas.

“Garapan ini merupakan hak para petani, jadi akan kami perjuangkan semaksimal mungkin agar tanah garapan itu tidak lepas,” tuturnya.

Sementara itu, Udin, salah satu petani penggarap, meminta agar para petani tetap menggarap lahannya.

“Karena inilah mata pencaharian kami sehingga bisa untuk menghidupi keluarga, menyekolahkan anak. Tanah bagi para petani adalah nyawa yang harus dirawat dan dipertahankan agar tetap lestari,” harapnya. (Rds)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Bogor