0

BOGOR, INDONEWS – Kasus dugaan kekerasan fisik yang dilakukan salah seorang oknum guru SMK Generasi Mandiri, Jalan Barokah, Nomor 08 RT 03 RW 11, Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor inisial FF terhadap muridnya kelas XII beberapa waktu lalu berujung damai dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Kesepakatan damai itu diperoleh setelah kedua belah pihak mengambil jalur islah atau saling memaafkan saat keduanya melakukan mediasi, Selasa (20/9/2022).

Mediasi dihadiri orangtua siswa yang menjadi korban dan oknum guru yang sempat membuat murid inisial AA trauma, hingga takut mau masuk sekolah.

Pertemuan itu juga disaksikan langsung Guru BK Naning dan salah satu keluarga murid serta guru SMK sekolah tersebut.

Meski berujung damai, orang tua siswa tetap meminta sejumlah syarat kepada oknum guru yang melakukan pemukulan. Salah satunya meminta surat pernyataan pengakuan bersalah dan permintaan maaf dan juga tidak ada intimidasi dari pihak sekolah terhadap anaknya, serta meminta agar tidak muncul lagi kasus yang sama atau tidak mengulangi lagi perbuatan serupa.

BACA JUGA :  Tingkatkan Lulusan ke Perguruan Tinggi, SMA Negeri 2 Peusangan Bireuen Gelar Bimbingan Belajar

“Ada dua poin yang kami minta. Pertama agar oknum guru tersebut tidak melakukan hal seperti itu lagi dan membuat surat pernyataan dilanjut permintaan maaf langsung. Kemudian yang kedua adanya jaminan kepada anak kami untuk tidak diperlakukan diskriminasi di sekolah,” kata orangtua murid, kepada Media-Indonews, Rabu (22/9/2022).

Ia menuturkan, kekerasan terhadap anak murid di sekolah sangat sensitif. Apa pun itu, menurutnya jika ada masalah pada anak, cobalah memanggil wali murid dan didiskusikan dengan guru atau wali murid beserta kepala sekolah.

“Kami berharap kepada pendidik beserta kepala sekolah jangan sampai ada seperti ini lagi, kalau mendidik dan mengajar ya tidak perlu melakukan kekerasaan,” katanya.

Sementara itu, Naning selaku Guru Bimbingan dan Konseling (BK) menuturkan bahwa kejadian tersebut akan menjadi bahan pembelajaran dan pengalaman bagi sekolah khususnya oknum guru inisial FF.

“Kami berjanji akan selalu mengingatkan kepada guru-guru dalam mendidik anak-anak untuk tidak menggunakan cara-cara kekerasan,” ujar Naning.

Ia juga meminta maaf kepada para orangtua murid yang menjadi korban kekerasan oknum guru tersebut, juga menegaskan jika saat ini ada SOP khusus terkait penanganan kenakalan siswa.

BACA JUGA :  SDN Bojong Malaka 01: Minim Sarana, Syarat Prestasi

“Atas nama sekolah kami minta maaf, tapi kejadian tersebut emang saya tidak mengetahuinya seperti apa. Saat ini, kami sudah ada SOP penanganan kenakalan siswa,” ujarnya.

“Peristiwa ini harus menjadi pembelajaran kita bersama, sebab dengan adanya kasus ini seakan-akan guru itu lebih mengutamakan mengajar. Padahal, tugas guru adalah 3M yakni mengajar, mendidik dan melatih. Perlu adanya sinergi antara sekolah dengan wali murid, sehingga apa yang diinginkan sekolah dan apa yang diharapkan wali murid bisa tersampaikan,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, FF mengakui dan membenarkan atas terjadinya pemukulan itu. FF mengaku telanjur emosi dan khilaf, dan ia telah meminta maaf.

“Iya betul, waktu itu saya emosi dan khilaf atas kejadian itu saya minta maaf kepada orangtua dan juga AA,” akunya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa kejadian itu bukan disengaja dan tidak ada niat lain, hanya untuk mendidik.

“Sebenarnya tidak ada niat lain, hanya untuk mendidik,” tukasnya. (Firm)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Bogor