BOGOR, INDONEWS | Mendirikan sebuah bangunan semisal rumah, cafe, restoran dan sebagainya tidak hanya harus berdiri kokoh, estetika dan unik atau ikonik, tetapi juga harus diyakini akan membawa kebaikan bagi penghuni atau pemiliknya.
Demikian sepenggal kutipan kalimat yang terungkap saat Arief P. Suwendi dan Jonny Sirait, dua sahabat yang merupakan aktivis berdiskusi mengenai masa depan Kabupaten Bogor.
Diskusi ringan namun padat akan makna itu mengangkat tema Masa Depan Kabupaten Bogor di Pilkada 2024. Kedua sahabat yang juga aktif sebagai kontrol sosial ini lantas mengungkit nama Ade Ruhandi atau juga dikenal Jaro Ade.
“Jaro Ade, Bogor Kapayun 2024-2029,” ucap Arief, disambut tawa hangat sahabatnya, Jonny Sirait.
Pernyataan Papa Rief, sapaan karib Arief P. Suwendi seolah mengisyaratkan jika Jaro Ade menjadi salah satu kandidat pemimpin Kabupaten Bogor yang mereka setujui.
“Ibaratnya begini, orang-tua menganjurkan terlebih agar kita melakukan doa atau ritual sejenisnya sesuai keyakinan dan budaya yang ada terlebih dahulu karena itu dijanjikan akan mendatangkan keberkahan dan kebaikan,” kata Arief.
Hal itu, kata dia, termasuk rencana tertunda sejak tahun 2017 lalu yaitu tentang pembangunan coffe shop, warung tempat ngopi atau sejenisnya yang telah digagas lama antara Arief dan Jonny.
“Kami berkeinginan menamakannya sebagai Warung Kopi ‘Bogor Kapayoen’. Dan karena keinginan mendukung abang kami, H. Ade Ruhandi (Jaro Ade) untuk maju sebagai calon Bupati Bogor tahun 2024-2029, maka kami pun siap menamakan warkop itu dengan nama Jaro Ade: Bogor Kapayoen 2024-2029, atau singkatnya Jago Kapayoen 2024-2029,” jelas Arief.
Ia merinci, Jaro Ade lahir dan besar di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor serta lahir tanggal 7 Agustus 1973 lalu.
Adapun nama Jaro Ade populer saat menjabat sebagai Kades Cileuksa periode 1998-2008.
“Sebagaimana diawal, semua dimulai dari doa. Juga beliau tidak mempermasalahkan bagaimana awal masyarakat memanggilnya Jaro Ade yang jelas ada doa di sana. Dari orangtua, mertua, istri, anak-anak, handai taulan, relasi bisnis, relasi politik dan sebagainya. Dan terbukti karirnya terus meroket hingga saat ini,” ungkap Arief.

Foto dokumentasi Jaro Ade beberapa tahun lalu
Menurut Papa Rief, tahapan dan perjalanan politiknya cukup rekatif aman dan baik-baik saja baik sejak menjabat Ketua Komisi C pada 2009-2012, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor dan Ketua DPRD periode 2014-2019.
“Sementara di Partai Golkar, beliau menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar masa bakti 2016-2021. Juga pernah berpasangan dengan Inggrid Maria Palupi Kansil atau dikenal Inggrid Kansil di Pilbup Bogor 2018. Keduanya didukung lima partai, yakni Golkar, Demokrat, PKS, Nasdem, dan PAN,” urainya.
Dan di situlah, sambung pria yang aktif di Koran Jokowi itu, kelahiran Jakarta itu, kemudian muncul konsep dan ide Warung Kopi Bogor Kapayoen.
“Tulisan dan narasi imajiner di berbagai media baik cetak maupun online yang intinya memberikan penguatan publisitas beliau dengan cara unik dan beda dari komunitas relawan saat itu, bahkan kami pun mendirikan komunitas relawan “Bogor Jadi Kapayun 2018”, dimana kami menyebut nama Jaro Ade dan Inggrid (Jadi). Di sana tanpa juga harus ewuh pakewuh jika ada beberapa tulisan yang juga ‘kritis,” katanya.
“Apakah ada kaitannya atau tidak, yang jelas, tahun 2018 lalu saya dan Jonny serta para Relawan Bogor Jadi Kapayun meyakini bahwa suara Jadi adalah 40,1%, bukan 859.444 suara (37%). Tapi ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur kacang hijau. Yang jelas kita tahulah apa yang terjadi sesudahnya. Gusti ora sare,” kata Arief, diiyakan Jonny.
Sementara menjelang Pilbup Bogor tahun 2024-2029, ia menegaskan telah menyampaikan diawal, jika dia dan sahabatnnya Jonny Sirait akan membawa gerbong masing-masing untuk pendukungan, yang tentunya ini bukan bicara ‘kuantiti’ namun kualiti sebagaimana tahun 2018 lalu.
“Saya dengan teman-teman dari Koranjokowi.com, Alumni Kongres Relawan Jokowi tahun 2013 (Akarjokowi2013), Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) dan sebagainya khususnya yang di Kabupaten Bogor juga ditambah ‘pasukan dan komunitasnya’ Jonny Sirait baik di di Dapil III Kabupaten Bogor (Kecamatan Caringin, Ciawi, Cigombong, Cijeruk, Cisarua, Megamendung dan Tamansari), Sahabat Jonny Sirait (SJS), Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), media-indonews.com berikut korannya Indonews, dan sebagainya, adalah salah satu bukti keseriusan itu membangun Warkop “Jago Kapayoen” tersebut menjadi salah-satu mesin politiknya kang Jaro Ade,” papar Arief.
“Doa dan niat telah disampaikan hingga menembus langit tujuh, Allah, Tuhan YME pun sepertinya tersenyum karena kami tidak salah orang untuk menjadikannya Bupati Bogor tahun 2024-2029 mendatang. Kapayoen, merupakan abreviasi/singkatan dari KAadilan, PAgeuh dan nYOENda (Kapayoen),” tambahnya.
Arief pun lantas menjabarkan, KAADILAN: Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Bogor di tahun 2024-2029. Selain tentang keadilan pelayanan publik (Askes, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya) juga yang kerap terlupakan adalah mengenai ‘Keadilan mendapatkan perlindungan hukum’.
“Ya sebut saja tentang banyaknya kasus hukum yang menjerat aparat desa di Kabupaten Bogor baik kasus dugaan korupsi Kades Cidokom, Kades Hambalang, Kades Tonjong dan Adang, Kades Krangan dan sebagainya yang demikian hits hingga seluruh Indonesia bulan Januari 2024 lalu. Kita tidak melihat, maaf, ada bantuan hukum dari Pemkab Bogor atau memang kami yang tidak mengikutinya?” kata Arief, berseloroh.
“Pastinya, kita tidak bicara tentang integritas dan kualitas seorang kepala desa, misalnya visi misi dan progam kerja yang disampaikan pada kampanye kurang sesuai dengan potensi desa, sehingga tidak seluruhnya dapat dilaksanakan pada saat menjabat, atau mencalonkan diri sebagai kepala desa karena semata mata menggangur dan tidak punya peluang kerja lain, dan sebagainya,” timpal Jonny, melengkapi pernyataan Arief.
Arief kemudian melanjutkan pemaparannya. Yang jelas, kata Arief, setiap kades dimana pun berada kerap terhadang akan empat hal sehingga berbenturan dengan hukum, yaitu: Ada yang memang tidak paham sehingga mudah diarahkan oknum-oknum sekitar untuk melanggar hukum.
Lihat saja kasus-kasus penyelewengan dana desa dan sebagainya, dimana tidak semua karena kesalahan para kades atau perangkat kecuali terhadap kasus-kasus yang dilakukan secara ‘sengaja’ untuk memperkaya diri dan kelompoknya.
“Saya dan lae Jonny Sirait pastinya tidak paham atau tidak tahu apakah dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, dimana disebut jika desa adalah basis terkecil sebuah demokrasi asli sehingga perlu asas kehati-hatian, dalam pengelolaan dan penataan desa dan bla, bla, bla,” ungkap Arief.
“Kami berdua sepertinya perlu pencerahan dari pihak terkait jika ada pertanyaan apakah dalam UU tersebut menyebut bahwa setiap kaades dan perangkatnya akan mendapatkan perlindungan hukum secara menyeluruh. Dan perlindungan hukum dari mana? maka kami berdua akan lebih tepat menjawab semua ini,” kata Jonny, kembali menambahkan ungkapan Arief.
Kaitan itu, Arief memaparkan kembali, Jaro Ade berawal dari seorang kades, maka dia lebih memahami kerja para kades.
“Maka jadikan dia sebagai sahabat para kades dan perangkatnya di Kabupaten Bogor, karena kami yakin beliau akan memberikan keadilan atas hal seperti ini disaat menjabat sebagai Bupati Bogor tahun 2024-2029 Mendatang. Ini hal sepele namun dilupakan oleh calon lainnya,” tandas Arief, menyudahi diskusi dengan meminum segelas kopi. ***






















Comments