0

JAKARTA, INDONEWS – Badan Kependudukan dan Keluaraga Berencana Nasional (BKKBN) mensosialisasikan pencegahan stunting pada anak, di Masjid Al-Falah, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (21/8/2022).

Sosialisasi tersebut dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Hj. Kumiasih Mufidayati, M.Si., dan dari BKKBN Pusat Nofrijal M.A.

Dalam sambutanya saat membuka sosialisasi, Kumiasih Mufida memaparkan pengaruh stunting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia berharap masyarakat dapat melakukan pencegahan stunting pada anak sedini mungkin.

“Sosialisasi pencegahan stunting ini suatu program kolaborasi yang diselenggarakan di seluruh Indonesia. Karena kita harus berjuang menekan angka stunting yang masih tinggi di Indonesia,” katanya.

Mufidayati menjelaskan, stunting adalah dimana kondisi anak mengalami gagal pertumbuhan pada balita akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan. Sehingga pertumbuhan anak menjadi tidak ideal, lebih mudah terkena penyakit.

“Maka dari itu saya berharap kepada seluruh peserta sosialisasi agar dapat memahami apa itu stunting, dan dampak buruknya terhadap anak yang akan dilahirkan seorang ibu. Selain itu anak yang sudah terlanjur stunting juga harus melakukan perawatan, pemberian gizi yang baik dan seterusnya. Itu yang harus dilakukan ke depannya,” terang Mufida.

BACA JUGA :  Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke-78, Humas Polri Gelar Khataman Alquran

Sementara Nofrijal menjelaskan, bahwa BKKBN sendiri secara instensif terus melakukan sosialisasi pencegahan stunting terhadap masyarakat Indonesia.

“Untuk melahirkan generasi-generasi sehat dan menyikapi persoalan stunting di Indonesia, BKKBN juga berupaya untuk mengatasinya. Stunting ini merupakan isu persoalan sumber daya manusia,” ujarnya.

BKKBN, kata Nofrijal, menginginkan angka stunting pada akhir tahun 2024 menjadi 14 %.

“Stunting itu cirinya bisa terlihat dengan jelas, yakni tinggi badannya lebih pendek dari anak seusianya. Sadi seorang balita kekurangan energi atau gizi selama 270 hari dalam kandungan, ditambah 2 tahun dalam ASI ibunya,” paparnya.

Akibat stunting, imbuhnya, kecerdasan otak anak tidak sesuai dengan anak seusianya. Stunting bukan keturunan, tetapi akibat kekurangannya gizi, lingkungan tidak bersih, pola asuh tidak tepat.

“Stunting tidak bisa diobati. Namun untuk mengurangi risiko anak mengalami stunting, dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan nutrisi, lalu menjaga pola makan, dan lingkungan bersih. Kita memberikan edukasi, dan ini adalah merupakan salah satu hal yang penting dilakukan guna mencegah stunting pada anak,” pungkasnya. (Supri)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Nasional