BEKASI, INDONESWS – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI terus berupaya menurunkan angka stunting secara aktif dan memberikan edukatif kepada masyarakat. Salah satunya dengan terjun langsung di tengah masyarakat melakukan sosialisasi dan advokasi. Seperti yang dilakukan di Kabupaten Bekasi.
Sosialisasi advokasi dan KEI program Bangga Kencana ini dihadiri Anggota DPRD Jawa Barat Achdar Sudrajat, Kepala Desa Satria Jaya AstaRajan, dan 200 peserta terdiri dari ibu-ibu PKK dan kader posyandu.
Penurunan stunting dari tahun-tahun sebelumnya relatif belum mencapai 14 persen, sehingga diperlukan adanya percepatan strategi nasional percepatan pencegahan stunting, sehingga target 14 persen membutuhkan penurunan 3 persen menuju percepatan penurunan stunting di tahun 2024.
BKKBN RI juga mengklaim ada beberapa wilayah di Indonesia yang kasus stuntingnya masih tinggi, yaitu Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
“Stunting adalah masalah gizi yang hampir dapat ditemui di semua wilayah Indonesia. Salah satunya di Jawa Barat,” kata Direktur KEI BKKBN Pusat, Eka Sulistiya Ediningsih, saat sosialisasi advokasi dan KEI Program Bangga Kencana, di Perumahan Griya Satria Pesona, Desa Satria Jaya, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Minggu (26/6/2022).
Dikatakan, upaya yang dilakukan BKKBN RI untuk menurunkan angka stunting yaitu dengan pemetaan dan pendampingan kepada keluarga berisiko stunting, tahapan pra nikah, masa kehamilan, dan pasca persalinan.
“Pada dasarnya, stunting ini amanah bagi kita semua dan menjadi PR besar bagi kita semua. Bagaimana mengupayakan terjadinya mindset masyarakat agar menjadi sadar bahwa kasus stunting ini penting dan bisa terjadi pada siapa saja,” ungkap Eka Sulistiya Ediningsih.
Sementara menurut pakar kependudukan, Dr. M. Yani, M.Kes, kondisi stunting secara Nasional saat ini masih tinggi dan jauh dari standar yang diterapkan WHO, yaitu sebesar 15 persen.
“Tentunya ini menjadi tanggung jawab bersama pemerintah serta para stakeholder agar angka stunting dapat ditekan. Sosialisasi digencarkan mulai hulu, tentang arti pentingnya hidup sehat guna mencegah bayi stunting,” kata M. Yani.
Menurutnya, stunting dapat disebabkan adanya berbagai faktor, dan belum banyak masyarakat yang mengetahui. Misalnya perilaku pasca kelahiran serta kultur, air dan sanitasi yang belum diperhatikan.
“Selain itu perlu diperhatikan dan ditingkatkan penyluhan bagi calon pasangan yang akan menikah, karena saat ini angka pernikahan cukup tinggi. Padahal sangat berisiko terjadinya stunting. Untuk itu harus dicegah sejak dini,” tandasnya. (Supri)




























Comments