0

BEKASI, INDONEWS – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus berupaya menurunkan angka stunting.

Secara aktif BKKBN menyelenggarakan sosialisasi sekaligus memberikan edukasi tentang stunting pada masyarakat. Salah satunya yaitu dengan terjun langsung ke tengah masyarakat.

Terbaru, BKKBN melakukan kegiatan sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana bersama Mitra kerja DKI Jakarta, tepatnya Masjid Al-Hikmah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (20/7/2022).

Sosialisasi dihadiri langsung oleh Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Hj. Kumiasih Mufidayati, Msi, Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN Pusat Dr. Edi Setiawan, S.S.i, Kepala Bidang Penggerakan dan Ketahanan Keluarga Dinas PPAPP Propinsi DKI Jakarta Drs. Ibni Sholeh M.Si, Suku Dinas DPAPP Jakarta Selatan Drs. Fathur Rohim, M.Si.

Mufida mengatakan, stunting berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia berharap masyarakat dapat melakukan pencegahan stunting pada anak sedini mungkin.

“Saya berharap kepada masyarakat agar dapat memahami apa itu stunting dan apa dampak buruknya terhadap anak yang akan dilahirkan oleh seorang ibu. Pada dasarnya pencegahan stunting adalah amanah untuk kita semua. Adapun anak yang sudah terlanjur stunting harus melakukan perawatan untuk pemberian gizi yang baik dan seterusnya,” terang Mufida.

BACA JUGA :  BARA JP Bogor: Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

Sementara Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN Pusat, Edi Setiawan menambahkan, Program Keluarga Berencana dinilai berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk dan angka stunting.

“Di Jakarta Barat sendiri angkanya 17,8%. Jadi dari 100 balita, sebanyak 18 anak yang stunting. Stunting itu adalah dimana kondisi anak yang mengalami gagal tumbuh karena kekurangan gizi kronis pada 1000 hari pertama kehidupan, sehingga menimbulkan pertumbuhan tidak ideal,” kata Edi.

Kepala Bidang Pergerakan dan Ketahanan Keluarga Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta, Ibni Sholeh menjelaskan, stunting adalah anak yang gagal tumbuh dan gagal kembang. Fisiknya gagal bertumbuh dengan umur seusianya. Kecerdasan otaknya pun juga tidak sesuai dengan anak seusianya.

“Stunting itu bukan lagi keturunan, melainkan akibat kekurangan pada gizinya, lingkungan yang tidak bersih, pola asuh yang tidak tepat. Stunting itu tidak bisa diobati, tetapi solusinya adalah dengan cara kita memberikan edukasi agar dapat melakukan pencegahan,” jelas Ibni Sholeh.

Penurunan stunting dari tahun-tahun sebelumnya relatif belum mencapai 14% di tahun 2024, sehingga diperlukan adanya percepatan strategi Nasional, percepatan pencegahan stunting, sehingga target 14 % membutuhkan penurunan 3% menuju percepatan penurunan stunting di tahun 2024. (Supri)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Nasional