0

BIREUEN, INDONEWSDalam rangka memperingati Hari Damai Aceh (HDA) ke-21, keluarga besar SMAN 1 Samalanga, Kabupaten Bireuen, menggelar kegiatan zikir dan tausiah pada Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ayah Bushairi dan berlangsung dengan penuh khidmat.

Kegiatan yang dilaksanakan di halaman upacara SMAN 1 Samalanga itu diikuti oleh kepala sekolah, Zulfadli, S.Pd.I., M.Pd., dewan guru, serta ratusan siswa dan siswi.

Suasana penuh kekhusyukan terlihat sejak kegiatan dimulai, sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan panjang perdamaian yang telah memberikan ruang bagi masyarakat Aceh untuk hidup lebih aman, tenteram, dan bermartabat.

Zikir menjadi sarana untuk mengingat Allah SWT dengan hati dan lisan sekaligus mendekatkan diri kepada-Nya.

Sementara tausiah menjadi wadah untuk menyampaikan nasihat dan pesan-pesan kebaikan yang dapat melembutkan hati, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa menjaga persaudaraan.

Peringatan HDA ke-21 tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk kembali merenungkan betapa mahalnya nilai sebuah perdamaian.

Dalam kehidupan masyarakat, rasa aman dan tenteram merupakan nikmat besar yang memungkinkan setiap orang menjalankan ibadah, menuntut ilmu, bekerja, dan membangun masa depan dengan penuh harapan.

BACA JUGA :  IPDN Kemengadri Kampus Jatinangor Kurban, 11 Ekor Sapi dan 8 Domba Disembelih

Perdamaian adalah nikmat yang harus disyukuri, tetapi juga amanah yang harus dijaga. Karena itu, rasa syukur atas perdamaian Aceh tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, melainkan harus diwujudkan dalam sikap dan perbuatan sehari-hari.

Dalam perspektif Islam, menjaga perdamaian merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Al-Qur’an mengajarkan pentingnya perdamaian dan mengutamakan jalan terbaik ketika terjadi perselisihan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa: 128, yang menegaskan bahwa perdamaian adalah jalan yang lebih baik.

Melalui momentum HDA ke-21, keluarga besar SMAN 1 Samalanga mengajak seluruh generasi muda untuk menjadi bagian dari penjaga perdamaian. Para pelajar sebagai generasi penerus Aceh diharapkan mampu menjaga lisan dan perbuatan, menghindari provokasi dan perpecahan, serta membangun persaudaraan di tengah keberagaman.

Wujud syukur atas perdamaian dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana, seperti saling memaafkan, menghargai perbedaan, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, tidak menyakiti sesama, dan senantiasa berbuat baik tanpa memandang latar belakang.

Lebih dari dua dekade perjalanan damai Aceh telah menjadi pelajaran berharga bahwa konflik tidak meninggalkan kemenangan sejati, sedangkan perdamaian memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk menatap masa depan.

BACA JUGA :  Tingkatkan Mutu dan Literasi Pada Murid, SDN 01 Bandar Sakti Laksanakan ANBK

“Damai bukan sekadar berhentinya pertikaian, tetapi dimulainya kehidupan yang penuh persaudaraan. Perdamaian akan tetap hidup apabila setiap generasi mau menjaganya dengan hati, ilmu, dan perbuatan.”

Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di SMAN 1 Samalanga pun menjadi pengingat bahwa menjaga perdamaian adalah tanggung jawab bersama. Dari lingkungan sekolah, nilai-nilai kedamaian dapat ditanamkan sejak dini agar tumbuh menjadi karakter generasi Aceh yang santun, toleran, berilmu, dan menjunjung tinggi persaudaraan.

“Jangan wariskan luka kepada generasi berikutnya; wariskanlah kedamaian, ilmu, persaudaraan, dan harapan.” (Hendra)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Pendidikan