LAMPUNG UTARA, INDONEWS – Bagi warga Desa Negri Ratu, Kecamatan Muara Sungkai, lebaran tahun ini terasa tawar, bahkan sebelum gema takbir berkumandang.
Harapan sederhana untuk mudik dengan nyaman atau sekadar bersilaturahmi ke sanak saudara di Tulang Bawang Barat, kini harus terkubur bersama genangan air yang memenuhi badan jalan kabupaten.
Rabu (18/3/2026), pemandangan di jalur penghubung Muara Sungkai dan Abung Surakarta tak ubahnya deretan “danau kecil” yang mengepung pemukiman.
Lubang-lubang besar yang menganga bukan lagi sekadar hambatan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Kesedihan paling getir mungkin dirasakan oleh anak-anak sekolah. Tak jarang, semangat mereka berangkat menuntut ilmu harus padam di tengah jalan.
Begitu motor yang mereka tumpangi tergelincir masuk lubang, seragam putih bersih seketika berubah menjadi cokelat lumpur. Bagi mereka, jatuh di jalan berarti “libur” paksa hari itu.
“Jalan ini sudah seperti bencana bagi kami,” ujar seorang warga Desa Negri Ratu dengan suara parau. Di matanya, tersirat kelelahan yang mendalam akibat bertahun-tahun bertarung dengan infrastruktur yang seolah terlupakan.
Luka infrastruktur ini menjalar hingga ke Desa Karya Sakti, Kecamatan Abung Surakarta. Kondisinya setali tiga uang: rusak parah dan memprihatinkan.
Warga di dua kecamatan ini seolah berbagi nasib yang sama, menanti kepastian yang tak kunjung datang dari meja pimpinan di Kabupaten Lampung Utara.
“Kami tidak minta yang mewah. Kami hanya ingin jalan yang layak, supaya bisa beraktivitas dengan nyaman, supaya anak-anak bisa sekolah tanpa rasa takut,” ungkap warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, keheningan masih menyelimuti pihak pemerintah daerah. Belum ada kepastian kapan alat berat akan turun atau kapan aspal akan menutup luka di tanah mereka. Bagi warga di sini, janji perbaikan kini terasa lebih jauh daripada jarak yang harus mereka tempuh melewati kubangan-kubangan maut tersebut. (Andre)





























Comments