BIREUEN, INDONEWS | Guna mengantisipasi ancaman ketahanan pangan akibat maraknya alih fungsi lahan pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Bireuen mengusulkan program pencetakan sawah baru seluas 1.000 hektare.
Langkah strategis ini menyusul kecenderungan konversi lahan sawah produktif menjadi bangunan komersial, seperti toko, rumah, hingga kawasan perumahan yang kian meluas dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini dikhawatirkan dapat menurunkan produksi pangan lokal dan mengancam ketersediaan beras di masa depan.
Kepala Distanbun Bireuen, Mulyadi, dalam pernyataannya melalui pesan WhatsApp kepada wartawan, Kamis (22/5), menyebutkan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat kondisi ini.
“Kami melihat tren alih fungsi lahan pertanian yang terus meningkat. Jika tidak segera diantisipasi, Bireuen berpotensi mengalami defisit pangan dalam waktu dekat,” tegasnya.
Mulyadi menambahkan, saat ini tim dari Kementerian Pertanian RI telah berada di Bireuen untuk melakukan verifikasi lapangan terkait usulan pencetakan sawah baru tersebut.
“Kami telah mengajukan pencetakan 1.000 hektare sawah baru. Namun, syarat utama dari pemerintah pusat adalah ketersediaan sumber air alami seperti sungai, irigasi, atau waduk. Sumur bor tidak diperbolehkan, sehingga pelaksanaannya tidak bisa dilakukan sembarangan,” jelasnya.
Usulan ini didukung penuh oleh Bupati Bireuen, H. Mukhlis, sebagai bentuk komitmen menjaga kedaulatan pangan daerah. Pemerintah Kabupaten juga mengimbau masyarakat dan para investor agar lebih bijak dalam memanfaatkan lahan, agar pembangunan tidak menyingkirkan sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
Sementara itu, masyarakat berharap langkah ini tidak sekadar menjadi wacana, melainkan segera direalisasikan secara konkret guna menjamin ketersediaan pangan dan keberlangsungan pertanian di Bireuen. (Hendra)





























Comments