BOGOR, INDONEWS – Sejumlah warga Desa Gunung Mulya mengaku resah dengan keberadaan bank emok dan praktik rentenir lainnya yang dapat menjerat masyarakat.
Warga pun sempat mengeluhkan hal tersebut kepada relawan Sahabat Jonny Sirait (SJS), untuk mencari solusi bagaimana memberantas bank berkedok koperasi tersebut.
Ditemui wartawan, Ketua RW 003, Lasnawati didampingi sejumlah tokoh masyarakat lain tengah berkumpul untuk menyikapi keresahan warga atas bank emok.
“Kehadiran bank emok dan rentenir lainnya mengiming-imingi warga. Setelah memberikan janji manis, bank ini secara tidak langsung menjerat warga,” ungkapnya, Sabtu (26/11/2022).
Ia menuturkan, warganya juga mengaku mendapat intimidasi dan memaksa membayar walaupun pada posisi yang sulit.
“Akibatnya ada warga yang stress, dan tidak sedikit mengalami perceraian rumah tangga. Ada juga yang kabur karena tidak kuat dengan tekanan bank emok,” ungkapnya
Lasnawati menuturkan, alasan warga terjerat koperasi ini bervariatif. Ada yang awalnya tidak berminat meminjam, tapi karena tiap hari didatangi dan disuruh berkelompok meminjam, akhirnya warga tergiur juga.
“Masarakat yang mau pinjam diharuskan berkelompok. Hal itu untuk mempermudah persyaratan dalam hal meminjam. Para utusan bank emok menjanjikan asuransi. Jadi bila meminjam dengan nilai berapapun akan diikutkan asuransi dengan nilai Rp20.000 per minggu, tapi herannya tidak ada kartu asuransinya,” paparnya.
Sementara salah satu warga yang meminta tidak ditulis namanya mengaku, uang pinjaman dari koperasi tersebut langsung dipotong sebesar 10 persen dari nilai pinjaman.
“Pemotongan itu alasannya untuk tabungan dan lain sebagainya. Tapi ujungnya bila cicilan sudah beres dan tidak memijam lagi, ada tabungan tersebut tidak dikembalikan kepada warga,” ungkapnya.
Keresahan masarakat mulai memuncak setelah adanya warga yang sakit, tapi dipaksa untuk tetap membayar cicilan tanpa ada rasa iba.
“Saya kesal warga yang sakit tersebut disuruh menjual perabot rumah tangga atau apapun, yang penting bisa bayar,” tandasnya.

Jonny Sirait (paling kanan) saat menghadiri pertemuan warga terkait bank emok
Sementara itu, Jonny Sirait yang didampingi Ketua Relawan Sahabat Jonny Sirait, Didi, mengaku prihatin atas tindak-tanduk koperasi berkedok bank.
“Saya pikir itu bukan bank, itu adalah koperasi. Kalau bank harus jelas, terdaftar dan diawasi otoritas jasa keuangan atau OJK. Memang cara-cara mereka itu seperti ringan, tapi nyatanya menjerat,” ujar Jonny, Sabtu.
Terkesan Membodohi
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, relawan Jonny Sirait bersama relawannya akan akan mendatangi lembaga atau koperasi tersebut dan memperjuangkan masyarakat.
“Koperasi ini terkesan membodohi masyarakat, dan nantinya masyarakat harus mulai dicerdaskan agar jangan meminjam ke rentenir. Silahkan meminjam ke bank resmi yang terdaftar dan diawasi OJK agar masyarakat tidak terbelit permasalahan,” ujar Jonnu.
Selain itu, bunga pinjaman di bank emok ini cukup tinggi. Bila pun mudah mendapatkn pinjaman, namun tetap akan sulit menggunakan pinjaman tersebut sesuai dengan kebutuhan yang ujungnya akan konsuntif.
“Dengan kejadian ini, kita harus sama-sama belajar. Dan yang penting karena saat ini sudah terlanjur terjerat, kita harus menyelamatkan warga yang menjadi korban dengan bersama-sama memberantas koperasi tersebut,” tandasnya. (Bintono)





























Comments