0

BOGOR, INDONEWS | Program bantuan keuangan (bankeu) Satu Miliar Satu Desa (Samisade) Kabupaten Bogor yang bertujuan untuk pembangunan infrastruktur desa kini cair kembali.

Salah satu penerimanya dalah Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Bantuan itu dialokasikan untuk pengecoran jalan wilayah Kampung Warung Kupa RT 01 RW 01, dengan volume panjang 353 meter, lebar 3  dan tinggi 0,15 meter.

Namun disayangkan pembangunan tersebut diduga tidak sesuai spek dan terlihat dikerjakan asal-asalan. Pasalnya, pengecoran belum rampung namun sudah mengalami retak-retak. Coran juga terlihat tidak menggunakan alas plastik.

Beberapa warga sekitar memberikan komentar beragar. Warga inisia MA misalnya, mengatakan jika corannya juga tebal hanya sisi sama sisi saja, namun pada tengahnya tipis.

“Coba saja tusuk sama paku, kelihatan tengahnya tipis. Bagusan juga yang bawahnya yang Desa Cipelang kemarin sudah pakai plastik amparan tebalnya rata, tidak kayak ini,” ujar AM, di lokasi pekerjaan, Senin (9/9).

Lantas wartawan bersama beberapa warga dan Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) mencoba mengukur ujung tengah coran dengan meteran, ternyata hanya sedalam 0,10 meter. Warga pun menyebut jika hasil cek tersebut tidak sesuai dengan yang tertera pada papan proyek yakni 0,15 meter.

Hasil pengukuran jalan

Sementara Risman, Tim Pelaksana Kerja (TPK) saat diwawancarai mengakui bahwa anggaran plastik amparan, batu makadam dan besi sudah ada pada rencana anggaran belanja (RAB).

BACA JUGA :  Dandim Kota Bogor Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Masjid Raya Bogor

“Ini kelalaian saya bahwa amparan plastik tidak dipasang dan kurang monitoring pekerjaan,” ucap Risman.

Melihat hasil kroscek tersebut, Ketua DPD GMPK Kabupaten Bogor, Jonny Sirait mengatakan, setiap proyek yang didanai pemerintah sepatutnya diawasi juga oleh masyarakat.

“Jika kemudian ditemukan adanya pelanggaran, masyarakat punya hak melaporkannya ke pihak yang berkompeten karena pelanggaran dalam penggunaan anggaran dapat mengarah pada tindak pidana korupsi,” ujar Jonny.

Dirinya juga menduga, proyek ini tidak bersih alias ada pelanggaran. Namun demikian, Jonny mengajak warga untuk terus mengawasi dan mencari bukti-bukti sebagai bahan untuk laporan.

“GMPK tentunya siap mendampingi masyarakat untuk menindaklanjuti dugaan-dugaan yang ada. Kami juga meminta pihak berwenang untuk memeriksa proyek di desa-desa khususnya di Desa Warung Menteng, agar bantuan Samisade dialokasikan sebagaimana mestinya,” tandas Jonny.

Di lain tempat, Sekretaris Desa Warung Menteng, Agil Asmi Fariski yang ditemui di kantor desa, mengatakan bahwa pernyataan TPK dan warga tersebut hanya karangan wartawan saja karena semua stetment itu tidak benar.

BACA JUGA :  Marak Peredaran Obat Keras, Kapolsek Gunung Putri Janji Tertibkan

Menurutnya, alas plastik coran dan besi untuk rangka tidak ada anggarannya dalam RAB, dan untuk pengerasan tanah juga hanya seperlunya untuk menutupi lubang saja, bukan untuk keseluruhan.

“Kami memang tidak masukkan dalam RAB, karena memang tidak perlu pakai alas plastik dan besi rangka. Sebelum pengerjaan kami juga berdiskusi dulu dengan pendamping desa, kecamatan, dinas bahkan pihak inspektorat juga tahu bahwa kami tidak menggunakan alas plastik dan rangka besi. Jadi kalau memang salah, yang berhak memutuskan itu inspektorat, jadi kita lihat saja nanti gimana menurut inspektorat,” papar Agil.

Saat wartawan meminta izin untuk melihat sketsa gambar, ia mengatakan bahwa akan memperlihatkan sketsa jika ada izin dari diskominfo.

“Saya akan perlihatkan sketsa gambar bila perlu RAB juga kami perlihatkan kalau (wartawan, red) membawa surat izin dari diskominfo,” pungkasnya.

Wartawan pun melakukan konfirmasi ke pihak diskominfo. Staf diskominfo menyebutkan wartawan atau masyarakat tidak perlu mendapat surat ijin dari kominfo jika ingin mengetahui pekerjaan di desa, karena itu termasuk dalam keterbukaan publik.

BACA JUGA :  Arahkan Kades Belanja Samisade di PT. PPE, Camat Ciomas Dinilai Merecoki

“Sebenarnya tidak perlu menggunakan surat izin, karena itu termasuk keterbukaan publik, agar seluruh elemen masyarakat tahu apakah pengerjaan tersebut sesuai dengan bantuan yang diterima atau tidak,” jelas salah satu staf Diskominfo Kabupaten Bogor itu.

Sementara menurut ahli betonisasi jalan yang ditemui, ia menjelaskan uDan palstik alas serta rangka besi seharusnya ada karena sangat penting.

“Setahu saya alas coran dan rangka besi itu penting adanya dalam betonisasi jalan karena sangat berpengaruh untuk kualitas dan ketahanan. Terkait pengerasan tanah atau jalan sebelum dicor, itu harus keseluruhan, bukan hanya yang bolong-bolong saja, meskipun jalan tersebut sebelumnya sudah diaspal,” terangnya. ***

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Bogor