Jeritan Sunyi Penyampai Suara Rakyat, Mohon Keseriusan Presiden Republik Indonesia
BIREUEN, INDONEWS — Radio lokal yang selama puluhan tahun menjadi denyut nadi informasi masyarakat hingga pelosok negeri, kini berada di ambang kepunahan.
Di Kabupaten Bireuen, Aceh, hampir seluruh radio swasta dilaporkan mati total akibat ketiadaan biaya operasional serta minimnya perhatian dan dukungan dari pemerintah.
Sebuah kondisi yang ironis, mengingat radio merupakan media elektronik yang memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi, khususnya pada saat-saat genting dan darurat.
Di tengah keterbatasan akses teknologi dan jaringan internet di sejumlah wilayah, radio sejatinya masih menjadi sahabat setia masyarakat. Ia hadir tanpa meminta banyak, cukup gelombang dan suara, namun mampu menjangkau hati dan kesadaran publik.
Sayangnya, keberadaan media yang pernah menjadi benteng informasi bangsa ini kini seolah dibiarkan perlahan menghilang tanpa upaya penyelamatan yang berarti.
Salah seorang pimpinan radio swasta tertua di Kabupaten Bireuen, Sukirman Sulaiman, pimpinan Radio Sonya Manis yang berdiri sejak tahun 1974, Jumat (30/1/2026), mengungkapkan keprihatinannya.
Menurutnya, pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, radio-radio swasta di Indonesia pernah merasakan perhatian negara. Bahkan para pimpinan radio pernah diundang ke Istana Negara sebagai bentuk silaturahmi dan pengakuan atas peran penting radio bagi bangsa.
“Radio adalah saksi sejarah bangsa. Melalui radio, dunia mendengar bahwa Indonesia masih ada. Nama Radio Rimba Raya akan selalu tercatat sebagai simbol perjuangan dan persatuan NKRI,” ujar Sukirman, dengan nada haru.
Ia menambahkan, sejarah besar tersebut seharusnya menjadi dasar moral bagi pemerintah pusat untuk bersikap lebih serius dalam menjaga dan menghidupkan radio swasta di daerah.
Dukungan anggaran melalui APBN dinilai sangat penting agar radio lokal dapat terus bertahan dan berkembang. Terlebih, dalam pengurusan perizinan dan kewajiban pajak, radio tetap menjalankan kewajibannya kepada negara.
“Ketika radio hidup, ia melayani masyarakat. Namun ketika radio mati, mengapa negara justru diam membisu?” ucapnya lirih.
Sukirman berharap, di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, akan tumbuh kembali perhatian negara terhadap radio lokal di daerah.
Ia bahkan berharap adanya langkah simbolik dan bermakna, seperti mengundang para pimpinan radio lokal ke Istana Negara, sebagaimana yang pernah dilakukan pada masa lalu, sebagai wujud pengakuan dan kepedulian negara.
Tak hanya itu, ia juga mendorong agar organisasi radio nasional seperti PRSSNI di Jakarta kembali dihidupkan dan diperkuat perannya, sehingga dapat menjadi jembatan aspirasi antara radio daerah dan pemerintah pusat.
Selama ini, kata Sukirman, hampir tidak ada sentuhan perhatian pemerintah terhadap radio-radio daerah. Proses perizinan yang rumit, biaya yang tinggi, serta absennya bantuan operasional membuat radio satu per satu terpaksa berhenti mengudara.
Padahal, membiarkan radio mati sama artinya dengan membiarkan suara rakyat kehilangan salurannya.
Radio bukan sekadar alat penyiaran. Ia adalah ruang edukasi, penyambung informasi, penjaga kearifan lokal, dan saksi perjalanan bangsa. Ketika radio senyap, yang hilang bukan hanya suara, tetapi juga denyut kehidupan sosial masyarakat.
Sudah saatnya negara hadir, bukan sekadar mendengar, tetapi juga bertindak. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para penjaga suaranya. (Hendra)




























Comments