0

JAKARTA, INDONEWS – Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992 (SBSI 1992) Abednego Panjaitan meminta Presiden Jokowi untuk turun tangan memberikan pembelaan kepada Brigjen TNI Junior Tumilaar yang saat ini tengah ditahan pada instalasi Tahanan Militer Puspomad di Cimanggis, Depok.

“Ini bukan soal membangkang perintah dinas sesuai dengan pasal 126 dan pasal 103 KUHP Militer, tapi kehadiran Brigjen Junior Tumilaar atas permintaan warga Bojongkoneng, Babakan Medang, Kabupaten Bogor, yang menjadi korban penggusuran lahan dan bangunan PT Sentul City,” terang Abednego Panjaitan, Kamis (24/2/2022) di Jakarta.

Menurut Abednego, perbuatan yang dapat dihukum hanyalah perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain. Sementara Brigjen Junior Tumilaar tidak merugikan institusi dan orang lain.

“Inilah buktinya, bahwa hari ini Buruh atau masyarakat miskin sangat mencintai TNI dan menaruh harapan kepada TNI. Kalau warga itu punya uang, tentulah mereka akan meminta bantuan hukum Pengacara terkenal untuk membela mereka,” katanya.

Brigjen Junior Tumilaar, kata Abednego, tidak merugikan siapapun kecuali bertindak aspiratif. Seseorang yang bertindak aspiratif untuk mendengarkan suara masyarakat seyogianya tidak langsung dihukum agar tidak mematikan nilai-nilai kebenaran itu.

BACA JUGA :  Delapan Saksi Diperiksa di Persidangan, Ajudan Sebut Ade Yasin Sering Minjam HP

“Jenderal Junior Tumilaar telah dua kali mengorbankan karir dan jabatannya untuk kepentingan orang banyak. Tindakan ini ibarat prajurit yang rela mati di Medan Perang untuk merebut kemerdekaan bagi negaranya. Bapak Presiden sudah harus turun tangan memberikan pembelaan kepada sang Jenderal yang pantang mundur ketika dipanggil ke medan tempur, berani dan berjiwa luhur seperti Bapak Jenderal ini,” tandasnya.

Disampaikannya, pemerintahan Jokowi seyogianya mendukung nilai-nilai kebenaran yang dihidupkan sosok Brigjen TNI Junior Tumilaar ini, sehingga prajurit TNI ke depannya tidak takut lagi untuk hadir ketika rakyat memohon kehadirannya.

“Jika rakyat meminta tolong kepada TNI, maka itu pertanda bahwa masyarakat tersebut sudah tidak percaya lagi ke penegak hukum lain, selain kepada TNI. Jenderal Junior Tumilaar telah menjalankan tugas yang diminta oleh sekelompok masyarakat yang merasa haknya teraniaya, maka tindakan Jenderal TNI ini tidak dapat dianggap membangkang perintah dinas,” ujar Abednego.

Menurutnya, kehadiran Brigjen Junior Tumilaar ke lokasi penggusuran lahan PT Sentul City tidak bermaksud ingin merusak citra TNI atau melanggar aturan militer, akan tetapi Brigjen Junior Tumilaar telah menunjukkan jati diri seorang prajurit bahwa TNI itu hadir adalah untuk kepentingan rakyatnya.

BACA JUGA :  ANTAR Siap Rebut Suara di Banten Demi Ganjar Pranowo Presiden RI

Dikatakannya, apabila Brigjen TNI Junior Tumilaar disebut-sebut bertugas diluar kewenangannya, maka SBSI 1992 menemukan fakta bahwa ada prajurit TNI yang menjaga Perusahaan dan terkesan membekingi Pengusaha, bahkan baru-baru ini prajurit TNI menganiaya Ketua DPC SBSI 1992 Kabupaten Langkat hingga terluka.

“Anggota kita dianiaya TNI pun, dengan legowo kita maafkan karena sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya, sedangkan Brigjen Junior Tumilaar ini kan tidak menodai institusi TNI, kenapa harus dihukum seberat itu?” ujarnya sedih.

Oleh karena itu, Sekretaris Jenderal relawan Doakan Jokowi Menang (DJM) Satu Kali Lagi ini memohon kepada Presiden Jokowi untuk memberikan pembelaan kepada Brigjen TNI Junior Tumilaar karena dinilai bertindak bukan untuk kepentingan pribadinya, namun datang menemui masyarakat yang memintanya untuk memediasi persoalan mereka.

“Apabila orang baik diam saja melihat orang baik diperlakukan tidak adil, maka untuk selama-lamanya kebaikan itu akan terpenjara,” tegas Penanggung Jawab Kegiatan Nasional Doa Lintas Agama di Monas pada tanggal 18 Oktober 2019 ini. (Firm)

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Headline